Senin, 27 Juli 2015

Pecinan, sejarah etnis Tionghoa di kota Bandung bagian 2





ketika peristiwa Bandung Lautan Api (1946). Kios-kios di Pasar Baru dibakar tentara Belanda. Wilayah Bandung terpisah menjadi bagian utara dan selatan. Kedua wilayah dibatasi rel kereta api yang membujur dari Cimahi hingga Kiaracondong. Wilayah utara dikuasai Belanda, sedangkan selatan oleh pribumi dan warga asing. Akibat peristiwa itu, warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegalega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi. Dengan demikian, dari Pasar Baru, kawasan pecinan meluas ke daerah-daerah tersebut. Warga Tionghoa dan pribumi pun bersatu kembali.


Budayawan Tionghoa, Drs. Soeria Disastra, mengatakan bahwa pecinan memang ada, tapi tidak ada batasan. Maksudnya, hubungan warga Tionghoa dan Pribumi sekitar abad ke-19 dekat sekali. Akan tetapi, Belanda tidak senang melihat kedekatan itu. Belanda pun memisahkan Tionghoa dan Pribumi dari segi ekonomi. Warga Tionghoa dijadikan perantara perekonomian bangsa Eropa dan pribumi. Menjual rempah-rempah dari pribumi ke Belanda untuk di ekspor. Lama kelamaan kedekatan itu pun memudar.

Saat ini, daerah Pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jalan Pasar Baru, Jalan ABC, Jalan Banceuy, Jalan Gardu Jati, Jalan Cibadak, dan Jalan Pecinan Bandung. Sie Tjoe Liong seorang narasumber berpesan agar warga pribumi dan Tionghoa tetap akur. ”Sekarang mah ga ada pecinan teh. Sudah berbaur. Interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi telah berlangsung lama. Kita adalah bangsa Indonesia,” kata dia.

Sampai saat inipun sisa-sisa peninggalan masyarakat Tionghoa terdahulu di Parijs van Java masih terlihat jelas, sepanjang jalan banceuy, jalan klenteng, pun asia afrika, masih dijumpai rumah-rumah tua yang dihuni oleh orang Tionghoa, dapat dipastikan pula bahwa mereka telah menghuni rumah tersebut dalam waktu lama dengan sistem herediter (turun temurun) dari sang leluhur. Sehingga ketika tradisi imlek dirayakan, maka dapat dipastikan daerah-daerah yang telah disebutkan tadi menjadi pusat perhelatan hari raya agung untuk masyarakat Tionghoa tersebut. Mereka hidup rukun saling menghormati, menghargai tanah yang mereka pijak, dan mengaku bahwa mereka pun berkebangsaan Indonesia.







sumber :
http://www.infobdg.com/v2/menguak-tabir-sejarah-bandung-china-town/
https://didasadariksa.wordpress.com/2010/11/02/sejarah-masyarakat-tionghoa-di-bandung/

sumber foto :
 http://mooibandoeng.tumblr.com
aleutwordpress.com
google
















Pecinan, sejarah etnis Tionghoa di kota Bandung bagian 1



Bandung tempo dulu diwarnai oleh adanya beberapa etnis yang hidup didalamnya seperti pribumi, Belanda, warga Eropa (selain Belanda), Arab, india dan juga etnis Cina atau Tiong Hoa. Mereka memberikan warna pada perkembangan di kota Bandung. Masyarakat dari etnis Tionghoa hadir di Bandung atas prakarsa Gubernur Jendral Hindia Belanda Daendels yang pada waktu itu sedang giat-giatnya membangun, salah satunya yaitu pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan pada tahun 1810. Selain itu juga ada yang berpendapat kedatangan etnis Tionghoa di kota Bandung diperkirakan mereka merupakan orang-orang pelarian perang Diponegoro tahun 1825-1830. Saat mereka tiba di bandung mereka menetap di daerah Suniaraja dan daerah Pecinan lama

Keberadaan tempat tinggal etnis Tionghoa atau pecinan di Kota Bandung berbeda dengan kawasan pecinan di kota Batavia maupun Semarang. Jika di Batavia atau Semarang mereka dibatasi pergerakanya dengan dibangunnya Benteng benteng disekitar pemukiman mereka dengan tujuan untuk meisahkan etnis tiong hoa dengan etnis lainnya. Sedangkan di kota Bandung mereka bisa bebas dengan leluasa hilir mudik tanpa sekat pembatas.

Di kota Bandung sendiri Pecinan terbagi pada 3 wilayah. Pertama di seberang Pasar Baru yang kini bernama Jalan Pecinan Lama. Kedua daerah belakang Pasar Baru hingga jalan Kebonjati, dan yang terakhir dari Jalan Gardu Jati hingga Andir. konon katanya sempat terjadi pemisahan ruang oleh pemerintahan belanda pada waktu itu. Penjajah menempatkan orang Belanda maupun bangsa Eropa di sebelah utara alun-alun. Sedangkan warga dari bangsa Asia timur seperti Tionghoa, Arab, India, ditempatkan di sebelah barat. Bangsa pribumi di tempatkan di sebelah selatan, dan bagi warga keturunan Indo di sediakan tempat di sekitar Jalan Lengkong dan Malabar. Sehingga tak heran banyak pengaruh nama nama etnis dalam nama jalan daerah tersebut seperti nama Jl. Alkateri diambil dari nama keluarga Arab Al Katiri.Dan Alkaterilah orang yang dikenal sebagai tuan tanah yang memiliki pabrik roti dan susu. 

Tahun 1885 etnis tiong hoa mulai menyebar ke Jln. Kelenteng. Pecinan di Jln. Kelenteng di tandai dengan pembangunan Vihara Satya Budhi. Pecinan berkembang pesat disekitar Pasar Baru sejak 1905. Umumnya warga Tionghoa menjadi pedagang. Salah satunya, Tan Sioe How yang mendirikan kios jamu ”Babah Kuya” di Jln. Belakang Pasar, tahun 1910. Bisa dikatakan, toko Babah Kuya merupakan salah satu perintis toko di kawasan itu. Selain Babah Kuya, warga Tionghoa lain pun banyak yang mendirikan kios di wilayah ini. 

toko babah kuya saat ini


Selain di Pasar Baru, kawasan pecinan juga tumbuh di Suniaraja dan Citepus pada tahun 1914. Setiap pecinan dipimpin oleh Wijkmeester. Wijkmeester untuk daerah Suniaraja adalah Thung Pek Koey, sedangkan untuk daerah Citepus adalah Tan Nyim Coy. Wijkmeester dipimpin oleh seorang Luitennant der Chineeschen. Di Bandung, Luitennant-nya adalah Tan Djoen Liong (H. Buning, ”Maleische Almanak”, 1914). Para pemimpin Tionghoa itu diabadikan di beberapa tempat, misalnya di sekitar jalan Chinees-Wijk Citepus, ada pula Gang Goan Ann di Andir dan Jap Lun.

bersambung ke bagian 2


Sumber foto : 
Google 
thetravelearn.com 

sumber : 
https://didasadariksa.wordpress.com/2010/11/02/sejarah-masyarakat-tionghoa-di-bandung/
https://aleut.wordpress.com/2010/04/11/jalan-jalan-ke-pecinan-bandung/




















Rabu, 08 Juli 2015

Cicadas, Daerah rawan di Bandung tempo dulu





Cicadas, bagi orang asli Bandung siapa yang tidak kenal daerah tersebut?. Cicadas merupakan salah satu area yang sangat padat dan terkenal dengan kemacetannya, area ini berada di daerah Ahmad Yani yang menuju Cicaheum dan perapatan yang menuju Jalan Jakarta dan Jalan Cikutra. Wilayah ini mungkin bukan salah satu area wisata seperti daerah-daerah lainnya (cihampelas, jalan Riau, dago dan sekitarnya). Tapi disini merupakan salah pusat perdagangan Kota Bandung dengan kepadatan penduduk dan tingkat hunian yang cukup tinggi (alias sempit dan semrawut). Cicadas sudah sangat terkenal dari jaman dulu, bagi sebagian penduduk bandung cicadas identik dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Disini juga banyak lahir cerita-cerita urban yang beredar luas di kalangan masyarakat Bandung.




cerita dari mulut ke mulut tentang tawuran antar penduduk, pemalakan dimalam hari sampai hanya tersisa "maaf" celana dalam di badan, julukan jendral becak pada era 60-an, tokoh preman Iwan Kusang, adanya gank Ninja yang suka menyerbu tempat tinggal atau kelompok tertentu, orang yang berjalan sambil menenteng samurai pada siang hari, Masa-masa 15 tahun kebelakang mungkin kita masih sering sedikit-sedikit mendengarkan dongeng-dongeng seperti itu.





Semua itu merupakan cerita-cerita urban yang sangat lekat dengan daerah ini. Terlepas dari itu semua Cicadas merupakan satu bagian penting di Kota Bandung, tempat yang juga memiliki tokoh-tokoh penting yang berasal dari tempat tersebut. Misal nya seniman Asep Berlian yang namanya juga menjadi nama salah satu Gang di daerah Cicadas, lalu juga ada Deddy Stanzah, salah seorang tokoh musik legendaris Indonesia (masih inget Band The Rollies?..), lalu juga ada Kristiawan, salah seorang seniman dan tokoh performance art yang juga suda membawa karyanya ke manca negara dan juga tokoh Nurul Arifin yang sempat tinggal disana.


 Sumber :

http://dudhynanda.blogspot.com/2010/05/cicadas.html

foto : Google


Catatan kecil mengenai Babakan Surabaya dan Kiaracondong



Babakan dalam bahasa Sunda bisa diartikan 'Kampung Baru'. Babakan Surabaya adalah nama tempat di daerah Kiaracondong. Lahirnya nama Babakan Surabaya tak lepas dari sejarah perkembangan militer di Kota Bandung. Ketika tahun 1898 pabrik mesiu di Ngawi dan Artillerie Constructie Winkel (ACW) alias pabrik senjara di Surabaya dipindahkan ke Kota Bandung. 
Nama Kiaracondong sendiri konon berasal didaerah tersebut ada sebuh pohon kiara yang sangat besar namun posisinya tidak tegak melainkan condong, namun tidak pernah roboh. Akhirnya orang orang menyebut daerah itu dengan daerah kiaracondong.
 
Untuk mendukung pusat militer ini, pada 1898, pabrik senjata/mesiu di Ngawi dan Surabaya semua dipindahkan ke Bandung. Kala itu, pemindahan instalasi militer dilakukan juga dengan pemindahan mesin-mesin/peralatan dan para pekerja. Maka, untuk penempatan pekerja dipilih daerah Kiaracondong. Pendirian permukiman baru itu kemudian dikenal dengan nama Babakan Surabaya. Sekarang lebih dikenal sebagai Pindad (di daerah Kiaracondong). Para pekerja di pabrik ini didatangkan langsung dari Surabaya. Oleh sebab itu, di kawasan Kiaracondong ini ada daerah Babakan Surabaya (Babakan = kampung).
 
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pekerja sekitar Kiaracondong, dibangunlah Pasar Kosambi. Kala itu  belum ada Pasar Cicadas dan Pasar Kiaracondong. Maka tak heran, di Kosambi kala itu bisa ditemukan para pedagang khas Jawa: rujak cingur, tiwul, pecel, hingga jamu-jamuan.  Sekitar 1919, ambtenaar orang Jawa yang agak terpandang sekitar 26 orang. 
 
Sumber & foto :
http://www.wisatabdg.com/2014/11/mengenal-sejarah-babakan-surabaya-dan.html
http://www.wisatabdg.com/2013/03/sejarah-cimahi-sebagai-pusat-militer.html


Selasa, 07 Juli 2015

RAA Martanagara, Catatan mengenai seorang Bupati Bandung bag akhir

    


     Program-program lain yang beliau canangkan pun tak kalah revolusioner. beliau berhasil mengisi kas daerah dengan menginstruksikan penanaman singkong besar-besaran, karena singkong saat itu sedang laku di pasaran dunia. Hasil kas digunakan untuk program-program lain, seperti memperluas area persawahan plus memperbaiki sistem irigasi. Martanegara bahkan mengungkapkan, bahwa tanah akan lebih berguna jika ditanami dibandingkan dengan diurug untuk dijadikan perumahan. Sedangnkan program irigasi diwujudkan lewat mega proyek irigasi Cihea, yang menghabiskan satu juta gulden. Mungkin hanya di masa Martanagara lah luas daerah persawahan tidak berkurang seiring majunya perekonomian sebuah kota, melainkan makin meluas. Pada tahun 1896 luas areal persawahan mencapai 800.000 bau. Dan ketika tahun 1912 mencapai 1.000.000 bau.

     Pembangunan prasarana publik pun tidak terlupa. Untuk mempermudah akses keluar masuk daerah, ia membangun jembatan (jembatan bambu)di beberapa sungai besar di sekitar Bandung. Dalam waktu singkat telah dibangun lima buah jembatan di aliran Citarum; yang menghubungkan Cicalengka-Majalaya, Ujungberung-Ciparay, Dayeuhkolot-Banjaran, Cimahi-Kopo, dan yang terakhir menghubungkan Rajamandala dan Cihea, dimana arus lalu lintas dari dan ke Batavia serta Bogor berhasil dipersingkat. Bahkan ketika pejabat kolonial meninjau proyek-proyek ini, disangkanya Martanagara adalah seorang insinyur teknik lulusan Belanda. Dua tahun kemudian, kelima jembatan bambu ini sudah diganti dengan yang berbahan besi.
Martanagara pun berhasil membangun irigasi beberapa taman di Bandung seperti Taman Merdeka (Pieterspark), Taman Nusantara (Insulindepark), Taman Maluku (Molukenpark), dan Taman Ganesha (Ijzermanpark).

    Tahun 1897 Martanagara lagi-lagi harus mengalami kehilangan seorang istri. Raden Ayu Sangkanningrat meninggal satu bulan setelah melahirkan putra pertamanya, Aom Singgih. istri RAA. Martanegara dimakamkan di Karang Anyar. Setahun kemudian ia pun menikah lagi, lagi-lagi dengan putri Pangeran Sugih, yaitu Nyai Raden Rajaningrat.

    Tahun 1904. Untuk ke sekian kalinya, datanglah Raden Dewi Sartika ke kantor Martanagara. Raden Dewi tak lain adalah putri dari Somanagara, sang pengacau pada awal kepemimpinannya. Beliau datang untuk kesekian kalinya memohon untuk diizinkan membuka sekolah untuk kaum perempuan, dari kalangan apapun. Martanagara dilanda kebimbangan, rencana Raden Dewi merupakan rencana yang sangat mulia dan progresif untuk jamannya. Namun di sisi lain akan menimbulkan kegoncangan bagi kaum priyayi, terutama para wanitanya. Karena sekolah adalah eksklusivitas yang hanya diperoleh kaum priyayi dan kaum berada. Tapi pada akhirnya, kecintaannya pada kemajuan membuatnya mengizinkan rencana Raden Dewi membuka sekolah. Agar tidak terlalu menghebohkan, sekolah Raden Dewi ia sediakan tempat di halaman rumah dinasnya. Dukungannya pada sekolah yang kelak bernama Sakola Kautamaan Istri tersebut berlanjut, bahkan ketika sekolah mencari tempat baru karena membludaknya murid, Martanagara ikut patungan (dari kocek pribadi) bersama Raden Dewi untuk membeli sebuah tanah di Ciguriang berikut membangun bangunan dari kayu dan bambu.




    Beragam penghargaan pernah ia terima ketika menjabat sebagai bupati. Tahun 1900 penghargaan bintang emas ia terima dari pemerintah kolonial. Tahun 1906 memperoleh gelar adipati. Tahun 1909 ia mendapatkan penghargaan tertinggi, yaitu payung emas (golden parasol) dari pemerintah. Martanegara juga mendapat gelar kehormatan dari Raja Siam, Officer of the Order of the Crown of Siam.

    Tahun 1918, setelah 25 tahun menjabat bupati Bandung, Martanagara merasa sudah waktunya ia untuk mundur. Usia yang sudah menginjak 74 tahun menyulitkannya untuk bekerja dengan fokus dan baik. Ia pun resmi mundur bersamaan dengan dikeluarkannya surat keputusan resmi pemerintah tanggal 14 Oktober 1918. Martanagara menghabiskan masa tuanya di Sumedang, tanah kelahirannya. Tempat tinggalnya di masa pensiun ini berpindah-pindah. Pertama ia menempati bagian selatan kompleks kabupaten, lalu ia dipinjami sebuah rumah oleh seorang Belanda, sembari ia pun membangun sebuah rumah di Burujul, sebelah barat kota Sumedang.Yang dihuninya sampai akhir hayat sebelum dimakamkan di Kompleks Makam Gunung Puyuh. Tidak diperoleh info tentang kapan ia wafat.



foto : 
google
http://tandang.info/dir/det/gunung-puyuh.htm

sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Martanegara

RAA Martanagara, Catatan mengenai seorang Bupati Bandung bag 2 (asal usul Merdeka Lio)


   
   Martanagara menunjukkan kemampuan dan pengabdiannya sebagai bupati dengan melaksanakan banyak pekerjaan dalam mengembangkan Kabupaten Bandung. Pada tahun pertama kepemimpinannya, Martanagara mengganti atap-atap rumah penduduk yang menggunakan bahan ilalang dengan genting. Rumah-rumah di Bandung pada akhir abad ke-19 memang kebanyakan masih berdinding bilik dengan atap ilalang, hanya sekitar 25% saja yang sudah menggunakan tembok dan genting. Martanagara mendatangkan beberapa ahli pembuat bata dan genting dari luar Bandung untuk melatih penduduk agar mampu membuat genting sendiri.

   Salah satu pusat pembuatan genting dan bata itu berada di wilayah Balubur Hilir yang kemudian bernama Merdika Lio, sesuai dengan aktivitas di sana. Lio adalah tempat pembakaran untuk membuat genting atau bata, sedangkan “merdika” atau “merdeka” adalah status para pekerja di lio tersebut yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Dengan begitu, nama jalan Merdeka yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda menjadi jelas tidak mengacu pada kemerdekaan RI, melainkan kepada nama kawasan permukiman masyarakat pembuat genting ini. Sebuah jalan baru di sebelah barat Merdikaweg pun diberi nama Nieuw Merdika, belakangan diganti menjadi Burgermeesterkuhrweg, dan sekarang Jl. Purnawarman.






   Martanagara juga mendorong penduduk Bandung untuk melakukan penanaman singkong secara intensif. Banyak kebun dibuka di wilayah Bandung. Beberapa sisa rawa ditimbun tanah dan dijadikan area perkebunan, sawah, atau kolam ikan. Konon saah satu hasil karyanya adalah Situ Saeur. Ia menimbun (disaeur) bekas danau dengan tanah agar dapat dijadikan lahan garapan. Ia juga membangun beberapa jembatan yang melintasi Ci tarum, mulai dari Cihea, Sapan, sampai Majalaya, dan membuat selokan-selokan serta jaringan irigasi di Gunung Halu (Solokan Dalem).  

Di tengah kota Bandung, Martanagara mengerahkan penduduk Lebak Gede untuk membuat jaringan kanal dengan memanfaatkan aliran air dari sungai Ci Kapundung.  Pada satu titik di sekitar Lebak Gede, dibuat satu saluran baru ke arah timur sebagai jalan utama kanal menuju kawasan tengah kota. Aliran baru ini kelak dikenali sebagai sungai Ci Kapayang. 

   Pada waktu itu R.A.A. Martanagara menjabat menjadi Demang Patih di Mangunreja di daerah tasikmalaya. Bupati yang dikelola oleh menak Bandung sebagai "Dalem Panyelang" ini, adalah keturunan para Bupati Sumedang, cicit pangeran Kornel (1791-1828). Ayahnya bernama Raden Kusumayuda, Wedana Cibeureum, sedangkan ibunya Nyi Raden Ayu Tejamirah masih keturunan para Bupati Bandung R.A.A. Martanagara dilahirkan pada tanggal9 Februari 1845. Jadi, ketika diangkat dengan Besluit tertanggal 7 Juni 1893 menjadi bupati bandung, ia sudah berusia 48 tahun.

Sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/12/17/catatan-ci-kapayang-10-11-13/
https://id.wikipedia.org/wiki/Martanegara























RAA Martanagara, Catatan mengenai seorang Bupati Bandung bag 1

   



   Pada tanggal 27 Juni 1893, Raden Adipati Aria Martanagara seorang Patih yang bertugas di Afdeling Sukapura Kolot diangkat menjadi Bupati Bandung yang kesepuluh. Beliau ditugaskan untuk  menggantikan Bupati Bandung kesembilan, Raden Adipati Kusumadilaga, yang wafat dua bulan sebelumnya. 

   Pengangkatan ini ternyata menimbulkan masalah, karena RAA Martanagara bukanlah seorang berdarah Bandung. Selain itu, Patih Bandung, Raden Rangga Somanagara  yang sudah bertugas menggantikan pekerjaan bupati sehari-hari juga merasa kecewa dan marah karena beranggapan telah terjadi penyerobotan hak dalam meneruskan kepemimpinan di Kabupaten Bandung. Raden Rangga Somanagara adalah menantu Bupati Bandung Wiranatakusuma IV atau Dalem Bintang.

   Beliau merasa seharusnya dialah yang menggantikan Kusumadilaga sebagai Bupati Bandung. Kekecewaan beliau membuat kalap. Raden Rangga Somanagara dibantu beberapa kroninya melakukan beberapa percobaan pembunuhan, baik terhadap bupati yang baru maupun pejabat-pejabat Belanda di Bandung.

     Upaya pembunuhan para pejabat dengan peledakan menggunakan dinamit ini berhasil digagalkan oleh polisi Hindia Belanda saat itu. Para perusuh langsung dibuang ke beberapa daerah di luar Pulau Jawa. Tetapi Martanagara tidak lantas merasa tenang karena pembuangan ini. Ia menyiapkan pasukan Sumedang di daerah Soreang. Pergaulan dengan kalangan menak Bandung dipererat dengan mendirikan Parukunan di depan Pendopo Kabupaten. Secara rutin Martanagara mengadakan kegiatan hiburan di Parukunan dan mengundang segenap menak Bandung untuk hadir. Dengan begitu, Martanagara mendekatkan dirinya kepada kalangan menak Bandung. Martanagara segera menunjukkan kemampuan dan pengabdiannya sebagai bupati dengan melaksanakan banyak pekerjaan dalam mengembangkan Kabupaten Bandung.

 Sumber foto :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/12/17/catatan-ci-kapayang-10-11-13/

sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/12/17/catatan-ci-kapayang-10-11-13/