Senin, 27 Juli 2015

Pecinan, sejarah etnis Tionghoa di kota Bandung bagian 2





ketika peristiwa Bandung Lautan Api (1946). Kios-kios di Pasar Baru dibakar tentara Belanda. Wilayah Bandung terpisah menjadi bagian utara dan selatan. Kedua wilayah dibatasi rel kereta api yang membujur dari Cimahi hingga Kiaracondong. Wilayah utara dikuasai Belanda, sedangkan selatan oleh pribumi dan warga asing. Akibat peristiwa itu, warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegalega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi. Dengan demikian, dari Pasar Baru, kawasan pecinan meluas ke daerah-daerah tersebut. Warga Tionghoa dan pribumi pun bersatu kembali.


Budayawan Tionghoa, Drs. Soeria Disastra, mengatakan bahwa pecinan memang ada, tapi tidak ada batasan. Maksudnya, hubungan warga Tionghoa dan Pribumi sekitar abad ke-19 dekat sekali. Akan tetapi, Belanda tidak senang melihat kedekatan itu. Belanda pun memisahkan Tionghoa dan Pribumi dari segi ekonomi. Warga Tionghoa dijadikan perantara perekonomian bangsa Eropa dan pribumi. Menjual rempah-rempah dari pribumi ke Belanda untuk di ekspor. Lama kelamaan kedekatan itu pun memudar.

Saat ini, daerah Pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jalan Pasar Baru, Jalan ABC, Jalan Banceuy, Jalan Gardu Jati, Jalan Cibadak, dan Jalan Pecinan Bandung. Sie Tjoe Liong seorang narasumber berpesan agar warga pribumi dan Tionghoa tetap akur. ”Sekarang mah ga ada pecinan teh. Sudah berbaur. Interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi telah berlangsung lama. Kita adalah bangsa Indonesia,” kata dia.

Sampai saat inipun sisa-sisa peninggalan masyarakat Tionghoa terdahulu di Parijs van Java masih terlihat jelas, sepanjang jalan banceuy, jalan klenteng, pun asia afrika, masih dijumpai rumah-rumah tua yang dihuni oleh orang Tionghoa, dapat dipastikan pula bahwa mereka telah menghuni rumah tersebut dalam waktu lama dengan sistem herediter (turun temurun) dari sang leluhur. Sehingga ketika tradisi imlek dirayakan, maka dapat dipastikan daerah-daerah yang telah disebutkan tadi menjadi pusat perhelatan hari raya agung untuk masyarakat Tionghoa tersebut. Mereka hidup rukun saling menghormati, menghargai tanah yang mereka pijak, dan mengaku bahwa mereka pun berkebangsaan Indonesia.







sumber :
http://www.infobdg.com/v2/menguak-tabir-sejarah-bandung-china-town/
https://didasadariksa.wordpress.com/2010/11/02/sejarah-masyarakat-tionghoa-di-bandung/

sumber foto :
 http://mooibandoeng.tumblr.com
aleutwordpress.com
google
















Pecinan, sejarah etnis Tionghoa di kota Bandung bagian 1



Bandung tempo dulu diwarnai oleh adanya beberapa etnis yang hidup didalamnya seperti pribumi, Belanda, warga Eropa (selain Belanda), Arab, india dan juga etnis Cina atau Tiong Hoa. Mereka memberikan warna pada perkembangan di kota Bandung. Masyarakat dari etnis Tionghoa hadir di Bandung atas prakarsa Gubernur Jendral Hindia Belanda Daendels yang pada waktu itu sedang giat-giatnya membangun, salah satunya yaitu pembangunan jalan raya pos Anyer-Panarukan pada tahun 1810. Selain itu juga ada yang berpendapat kedatangan etnis Tionghoa di kota Bandung diperkirakan mereka merupakan orang-orang pelarian perang Diponegoro tahun 1825-1830. Saat mereka tiba di bandung mereka menetap di daerah Suniaraja dan daerah Pecinan lama

Keberadaan tempat tinggal etnis Tionghoa atau pecinan di Kota Bandung berbeda dengan kawasan pecinan di kota Batavia maupun Semarang. Jika di Batavia atau Semarang mereka dibatasi pergerakanya dengan dibangunnya Benteng benteng disekitar pemukiman mereka dengan tujuan untuk meisahkan etnis tiong hoa dengan etnis lainnya. Sedangkan di kota Bandung mereka bisa bebas dengan leluasa hilir mudik tanpa sekat pembatas.

Di kota Bandung sendiri Pecinan terbagi pada 3 wilayah. Pertama di seberang Pasar Baru yang kini bernama Jalan Pecinan Lama. Kedua daerah belakang Pasar Baru hingga jalan Kebonjati, dan yang terakhir dari Jalan Gardu Jati hingga Andir. konon katanya sempat terjadi pemisahan ruang oleh pemerintahan belanda pada waktu itu. Penjajah menempatkan orang Belanda maupun bangsa Eropa di sebelah utara alun-alun. Sedangkan warga dari bangsa Asia timur seperti Tionghoa, Arab, India, ditempatkan di sebelah barat. Bangsa pribumi di tempatkan di sebelah selatan, dan bagi warga keturunan Indo di sediakan tempat di sekitar Jalan Lengkong dan Malabar. Sehingga tak heran banyak pengaruh nama nama etnis dalam nama jalan daerah tersebut seperti nama Jl. Alkateri diambil dari nama keluarga Arab Al Katiri.Dan Alkaterilah orang yang dikenal sebagai tuan tanah yang memiliki pabrik roti dan susu. 

Tahun 1885 etnis tiong hoa mulai menyebar ke Jln. Kelenteng. Pecinan di Jln. Kelenteng di tandai dengan pembangunan Vihara Satya Budhi. Pecinan berkembang pesat disekitar Pasar Baru sejak 1905. Umumnya warga Tionghoa menjadi pedagang. Salah satunya, Tan Sioe How yang mendirikan kios jamu ”Babah Kuya” di Jln. Belakang Pasar, tahun 1910. Bisa dikatakan, toko Babah Kuya merupakan salah satu perintis toko di kawasan itu. Selain Babah Kuya, warga Tionghoa lain pun banyak yang mendirikan kios di wilayah ini. 

toko babah kuya saat ini


Selain di Pasar Baru, kawasan pecinan juga tumbuh di Suniaraja dan Citepus pada tahun 1914. Setiap pecinan dipimpin oleh Wijkmeester. Wijkmeester untuk daerah Suniaraja adalah Thung Pek Koey, sedangkan untuk daerah Citepus adalah Tan Nyim Coy. Wijkmeester dipimpin oleh seorang Luitennant der Chineeschen. Di Bandung, Luitennant-nya adalah Tan Djoen Liong (H. Buning, ”Maleische Almanak”, 1914). Para pemimpin Tionghoa itu diabadikan di beberapa tempat, misalnya di sekitar jalan Chinees-Wijk Citepus, ada pula Gang Goan Ann di Andir dan Jap Lun.

bersambung ke bagian 2


Sumber foto : 
Google 
thetravelearn.com 

sumber : 
https://didasadariksa.wordpress.com/2010/11/02/sejarah-masyarakat-tionghoa-di-bandung/
https://aleut.wordpress.com/2010/04/11/jalan-jalan-ke-pecinan-bandung/




















Rabu, 08 Juli 2015

Cicadas, Daerah rawan di Bandung tempo dulu





Cicadas, bagi orang asli Bandung siapa yang tidak kenal daerah tersebut?. Cicadas merupakan salah satu area yang sangat padat dan terkenal dengan kemacetannya, area ini berada di daerah Ahmad Yani yang menuju Cicaheum dan perapatan yang menuju Jalan Jakarta dan Jalan Cikutra. Wilayah ini mungkin bukan salah satu area wisata seperti daerah-daerah lainnya (cihampelas, jalan Riau, dago dan sekitarnya). Tapi disini merupakan salah pusat perdagangan Kota Bandung dengan kepadatan penduduk dan tingkat hunian yang cukup tinggi (alias sempit dan semrawut). Cicadas sudah sangat terkenal dari jaman dulu, bagi sebagian penduduk bandung cicadas identik dengan tingkat kriminalitas yang tinggi. Disini juga banyak lahir cerita-cerita urban yang beredar luas di kalangan masyarakat Bandung.




cerita dari mulut ke mulut tentang tawuran antar penduduk, pemalakan dimalam hari sampai hanya tersisa "maaf" celana dalam di badan, julukan jendral becak pada era 60-an, tokoh preman Iwan Kusang, adanya gank Ninja yang suka menyerbu tempat tinggal atau kelompok tertentu, orang yang berjalan sambil menenteng samurai pada siang hari, Masa-masa 15 tahun kebelakang mungkin kita masih sering sedikit-sedikit mendengarkan dongeng-dongeng seperti itu.





Semua itu merupakan cerita-cerita urban yang sangat lekat dengan daerah ini. Terlepas dari itu semua Cicadas merupakan satu bagian penting di Kota Bandung, tempat yang juga memiliki tokoh-tokoh penting yang berasal dari tempat tersebut. Misal nya seniman Asep Berlian yang namanya juga menjadi nama salah satu Gang di daerah Cicadas, lalu juga ada Deddy Stanzah, salah seorang tokoh musik legendaris Indonesia (masih inget Band The Rollies?..), lalu juga ada Kristiawan, salah seorang seniman dan tokoh performance art yang juga suda membawa karyanya ke manca negara dan juga tokoh Nurul Arifin yang sempat tinggal disana.


 Sumber :

http://dudhynanda.blogspot.com/2010/05/cicadas.html

foto : Google


Catatan kecil mengenai Babakan Surabaya dan Kiaracondong



Babakan dalam bahasa Sunda bisa diartikan 'Kampung Baru'. Babakan Surabaya adalah nama tempat di daerah Kiaracondong. Lahirnya nama Babakan Surabaya tak lepas dari sejarah perkembangan militer di Kota Bandung. Ketika tahun 1898 pabrik mesiu di Ngawi dan Artillerie Constructie Winkel (ACW) alias pabrik senjara di Surabaya dipindahkan ke Kota Bandung. 
Nama Kiaracondong sendiri konon berasal didaerah tersebut ada sebuh pohon kiara yang sangat besar namun posisinya tidak tegak melainkan condong, namun tidak pernah roboh. Akhirnya orang orang menyebut daerah itu dengan daerah kiaracondong.
 
Untuk mendukung pusat militer ini, pada 1898, pabrik senjata/mesiu di Ngawi dan Surabaya semua dipindahkan ke Bandung. Kala itu, pemindahan instalasi militer dilakukan juga dengan pemindahan mesin-mesin/peralatan dan para pekerja. Maka, untuk penempatan pekerja dipilih daerah Kiaracondong. Pendirian permukiman baru itu kemudian dikenal dengan nama Babakan Surabaya. Sekarang lebih dikenal sebagai Pindad (di daerah Kiaracondong). Para pekerja di pabrik ini didatangkan langsung dari Surabaya. Oleh sebab itu, di kawasan Kiaracondong ini ada daerah Babakan Surabaya (Babakan = kampung).
 
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan pekerja sekitar Kiaracondong, dibangunlah Pasar Kosambi. Kala itu  belum ada Pasar Cicadas dan Pasar Kiaracondong. Maka tak heran, di Kosambi kala itu bisa ditemukan para pedagang khas Jawa: rujak cingur, tiwul, pecel, hingga jamu-jamuan.  Sekitar 1919, ambtenaar orang Jawa yang agak terpandang sekitar 26 orang. 
 
Sumber & foto :
http://www.wisatabdg.com/2014/11/mengenal-sejarah-babakan-surabaya-dan.html
http://www.wisatabdg.com/2013/03/sejarah-cimahi-sebagai-pusat-militer.html


Selasa, 07 Juli 2015

RAA Martanagara, Catatan mengenai seorang Bupati Bandung bag akhir

    


     Program-program lain yang beliau canangkan pun tak kalah revolusioner. beliau berhasil mengisi kas daerah dengan menginstruksikan penanaman singkong besar-besaran, karena singkong saat itu sedang laku di pasaran dunia. Hasil kas digunakan untuk program-program lain, seperti memperluas area persawahan plus memperbaiki sistem irigasi. Martanegara bahkan mengungkapkan, bahwa tanah akan lebih berguna jika ditanami dibandingkan dengan diurug untuk dijadikan perumahan. Sedangnkan program irigasi diwujudkan lewat mega proyek irigasi Cihea, yang menghabiskan satu juta gulden. Mungkin hanya di masa Martanagara lah luas daerah persawahan tidak berkurang seiring majunya perekonomian sebuah kota, melainkan makin meluas. Pada tahun 1896 luas areal persawahan mencapai 800.000 bau. Dan ketika tahun 1912 mencapai 1.000.000 bau.

     Pembangunan prasarana publik pun tidak terlupa. Untuk mempermudah akses keluar masuk daerah, ia membangun jembatan (jembatan bambu)di beberapa sungai besar di sekitar Bandung. Dalam waktu singkat telah dibangun lima buah jembatan di aliran Citarum; yang menghubungkan Cicalengka-Majalaya, Ujungberung-Ciparay, Dayeuhkolot-Banjaran, Cimahi-Kopo, dan yang terakhir menghubungkan Rajamandala dan Cihea, dimana arus lalu lintas dari dan ke Batavia serta Bogor berhasil dipersingkat. Bahkan ketika pejabat kolonial meninjau proyek-proyek ini, disangkanya Martanagara adalah seorang insinyur teknik lulusan Belanda. Dua tahun kemudian, kelima jembatan bambu ini sudah diganti dengan yang berbahan besi.
Martanagara pun berhasil membangun irigasi beberapa taman di Bandung seperti Taman Merdeka (Pieterspark), Taman Nusantara (Insulindepark), Taman Maluku (Molukenpark), dan Taman Ganesha (Ijzermanpark).

    Tahun 1897 Martanagara lagi-lagi harus mengalami kehilangan seorang istri. Raden Ayu Sangkanningrat meninggal satu bulan setelah melahirkan putra pertamanya, Aom Singgih. istri RAA. Martanegara dimakamkan di Karang Anyar. Setahun kemudian ia pun menikah lagi, lagi-lagi dengan putri Pangeran Sugih, yaitu Nyai Raden Rajaningrat.

    Tahun 1904. Untuk ke sekian kalinya, datanglah Raden Dewi Sartika ke kantor Martanagara. Raden Dewi tak lain adalah putri dari Somanagara, sang pengacau pada awal kepemimpinannya. Beliau datang untuk kesekian kalinya memohon untuk diizinkan membuka sekolah untuk kaum perempuan, dari kalangan apapun. Martanagara dilanda kebimbangan, rencana Raden Dewi merupakan rencana yang sangat mulia dan progresif untuk jamannya. Namun di sisi lain akan menimbulkan kegoncangan bagi kaum priyayi, terutama para wanitanya. Karena sekolah adalah eksklusivitas yang hanya diperoleh kaum priyayi dan kaum berada. Tapi pada akhirnya, kecintaannya pada kemajuan membuatnya mengizinkan rencana Raden Dewi membuka sekolah. Agar tidak terlalu menghebohkan, sekolah Raden Dewi ia sediakan tempat di halaman rumah dinasnya. Dukungannya pada sekolah yang kelak bernama Sakola Kautamaan Istri tersebut berlanjut, bahkan ketika sekolah mencari tempat baru karena membludaknya murid, Martanagara ikut patungan (dari kocek pribadi) bersama Raden Dewi untuk membeli sebuah tanah di Ciguriang berikut membangun bangunan dari kayu dan bambu.




    Beragam penghargaan pernah ia terima ketika menjabat sebagai bupati. Tahun 1900 penghargaan bintang emas ia terima dari pemerintah kolonial. Tahun 1906 memperoleh gelar adipati. Tahun 1909 ia mendapatkan penghargaan tertinggi, yaitu payung emas (golden parasol) dari pemerintah. Martanegara juga mendapat gelar kehormatan dari Raja Siam, Officer of the Order of the Crown of Siam.

    Tahun 1918, setelah 25 tahun menjabat bupati Bandung, Martanagara merasa sudah waktunya ia untuk mundur. Usia yang sudah menginjak 74 tahun menyulitkannya untuk bekerja dengan fokus dan baik. Ia pun resmi mundur bersamaan dengan dikeluarkannya surat keputusan resmi pemerintah tanggal 14 Oktober 1918. Martanagara menghabiskan masa tuanya di Sumedang, tanah kelahirannya. Tempat tinggalnya di masa pensiun ini berpindah-pindah. Pertama ia menempati bagian selatan kompleks kabupaten, lalu ia dipinjami sebuah rumah oleh seorang Belanda, sembari ia pun membangun sebuah rumah di Burujul, sebelah barat kota Sumedang.Yang dihuninya sampai akhir hayat sebelum dimakamkan di Kompleks Makam Gunung Puyuh. Tidak diperoleh info tentang kapan ia wafat.



foto : 
google
http://tandang.info/dir/det/gunung-puyuh.htm

sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Martanegara

RAA Martanagara, Catatan mengenai seorang Bupati Bandung bag 2 (asal usul Merdeka Lio)


   
   Martanagara menunjukkan kemampuan dan pengabdiannya sebagai bupati dengan melaksanakan banyak pekerjaan dalam mengembangkan Kabupaten Bandung. Pada tahun pertama kepemimpinannya, Martanagara mengganti atap-atap rumah penduduk yang menggunakan bahan ilalang dengan genting. Rumah-rumah di Bandung pada akhir abad ke-19 memang kebanyakan masih berdinding bilik dengan atap ilalang, hanya sekitar 25% saja yang sudah menggunakan tembok dan genting. Martanagara mendatangkan beberapa ahli pembuat bata dan genting dari luar Bandung untuk melatih penduduk agar mampu membuat genting sendiri.

   Salah satu pusat pembuatan genting dan bata itu berada di wilayah Balubur Hilir yang kemudian bernama Merdika Lio, sesuai dengan aktivitas di sana. Lio adalah tempat pembakaran untuk membuat genting atau bata, sedangkan “merdika” atau “merdeka” adalah status para pekerja di lio tersebut yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Dengan begitu, nama jalan Merdeka yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda menjadi jelas tidak mengacu pada kemerdekaan RI, melainkan kepada nama kawasan permukiman masyarakat pembuat genting ini. Sebuah jalan baru di sebelah barat Merdikaweg pun diberi nama Nieuw Merdika, belakangan diganti menjadi Burgermeesterkuhrweg, dan sekarang Jl. Purnawarman.






   Martanagara juga mendorong penduduk Bandung untuk melakukan penanaman singkong secara intensif. Banyak kebun dibuka di wilayah Bandung. Beberapa sisa rawa ditimbun tanah dan dijadikan area perkebunan, sawah, atau kolam ikan. Konon saah satu hasil karyanya adalah Situ Saeur. Ia menimbun (disaeur) bekas danau dengan tanah agar dapat dijadikan lahan garapan. Ia juga membangun beberapa jembatan yang melintasi Ci tarum, mulai dari Cihea, Sapan, sampai Majalaya, dan membuat selokan-selokan serta jaringan irigasi di Gunung Halu (Solokan Dalem).  

Di tengah kota Bandung, Martanagara mengerahkan penduduk Lebak Gede untuk membuat jaringan kanal dengan memanfaatkan aliran air dari sungai Ci Kapundung.  Pada satu titik di sekitar Lebak Gede, dibuat satu saluran baru ke arah timur sebagai jalan utama kanal menuju kawasan tengah kota. Aliran baru ini kelak dikenali sebagai sungai Ci Kapayang. 

   Pada waktu itu R.A.A. Martanagara menjabat menjadi Demang Patih di Mangunreja di daerah tasikmalaya. Bupati yang dikelola oleh menak Bandung sebagai "Dalem Panyelang" ini, adalah keturunan para Bupati Sumedang, cicit pangeran Kornel (1791-1828). Ayahnya bernama Raden Kusumayuda, Wedana Cibeureum, sedangkan ibunya Nyi Raden Ayu Tejamirah masih keturunan para Bupati Bandung R.A.A. Martanagara dilahirkan pada tanggal9 Februari 1845. Jadi, ketika diangkat dengan Besluit tertanggal 7 Juni 1893 menjadi bupati bandung, ia sudah berusia 48 tahun.

Sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/12/17/catatan-ci-kapayang-10-11-13/
https://id.wikipedia.org/wiki/Martanegara























RAA Martanagara, Catatan mengenai seorang Bupati Bandung bag 1

   



   Pada tanggal 27 Juni 1893, Raden Adipati Aria Martanagara seorang Patih yang bertugas di Afdeling Sukapura Kolot diangkat menjadi Bupati Bandung yang kesepuluh. Beliau ditugaskan untuk  menggantikan Bupati Bandung kesembilan, Raden Adipati Kusumadilaga, yang wafat dua bulan sebelumnya. 

   Pengangkatan ini ternyata menimbulkan masalah, karena RAA Martanagara bukanlah seorang berdarah Bandung. Selain itu, Patih Bandung, Raden Rangga Somanagara  yang sudah bertugas menggantikan pekerjaan bupati sehari-hari juga merasa kecewa dan marah karena beranggapan telah terjadi penyerobotan hak dalam meneruskan kepemimpinan di Kabupaten Bandung. Raden Rangga Somanagara adalah menantu Bupati Bandung Wiranatakusuma IV atau Dalem Bintang.

   Beliau merasa seharusnya dialah yang menggantikan Kusumadilaga sebagai Bupati Bandung. Kekecewaan beliau membuat kalap. Raden Rangga Somanagara dibantu beberapa kroninya melakukan beberapa percobaan pembunuhan, baik terhadap bupati yang baru maupun pejabat-pejabat Belanda di Bandung.

     Upaya pembunuhan para pejabat dengan peledakan menggunakan dinamit ini berhasil digagalkan oleh polisi Hindia Belanda saat itu. Para perusuh langsung dibuang ke beberapa daerah di luar Pulau Jawa. Tetapi Martanagara tidak lantas merasa tenang karena pembuangan ini. Ia menyiapkan pasukan Sumedang di daerah Soreang. Pergaulan dengan kalangan menak Bandung dipererat dengan mendirikan Parukunan di depan Pendopo Kabupaten. Secara rutin Martanagara mengadakan kegiatan hiburan di Parukunan dan mengundang segenap menak Bandung untuk hadir. Dengan begitu, Martanagara mendekatkan dirinya kepada kalangan menak Bandung. Martanagara segera menunjukkan kemampuan dan pengabdiannya sebagai bupati dengan melaksanakan banyak pekerjaan dalam mengembangkan Kabupaten Bandung.

 Sumber foto :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/12/17/catatan-ci-kapayang-10-11-13/

sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/12/17/catatan-ci-kapayang-10-11-13/






Senin, 06 Juli 2015

Cihampelas, pemandian bersejarah Bandung tempo dulu







    Buat yang memiliki hobi belanja di kawasan Bandung rasanya tidak asing dengan nama jalan cihampelas. Kawasan ini terkenal dengan pusat perbelanjaan baju dan jeansnya. tahun 1990 an kawasan ini terkenal sekali sebagai pusat jeans. tapi ada yang kenal dengan sejarah dan asal usul nama cihampelas tersebut??

tjihampelas 1900 -google


    Daerah Cihampelas tempo dulu terutama pada awal terbentuknya kawasan ini tidak terlepas dari sejarah kota Bandung. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Cihampelas yang termasuk dalam kawasan Bandung Utara dikondisikan untuk pemukiman orang Eropa. Pada masa itu gedung-gedung gaya romantik Belanda banyak berdiri dikawasan ini. Penamaan kawasan dan jalan dengan nama Cihampelas diambil berdasarkan nama kolam pemandian yang ada di daerah ini, yakni kolam pemandian Cihampelas. Pada saat pembuatan kolam, disekitar tempat tersebut banyak terdapat pohon Hampelas (sejenis pohon berdaun kasar dan bisa digunakan sebagai penggosok. Sumber air yang digunakan untuk mengisi kolam berasal dari sekitar pohon tersebut hampelas tersebut.

pemandian tjihampelas tempo dulu -Google

pemandian tjihampelas tempo dulu -Google

   Kolam renang yang identik dengan jalan Cihampelas ini, kini masih dipergunakan walaupun wujudnya telah berubah seiring kemajuan jaman. Sekitar Tahun 1987-an satu demi satu rumah tinggal dikawasan ini berpindah tangan baik secara sistim beli maupun sewa. Perpindahan tangan tersebut ternyata menandai dimulainya kawasan Cihampelas sebagai salah satu tempat yang mencirikan kota Bandung, selain Cibaduyut sebagai kawasan sepatu.

   Dan sekarang bila anda tengah berjalan keluar masuk toko dengan tangan yang sarat belanjaan, menghayallah sedikit kemasa lalu. Dimana noni-noni Belanda pernah menjadikan tempat ini sebagai ajang bercengkerama, berjalan menikmati matahari, taman-taman bunga tanpa diganggu kebisingan. Bahkan bisa jadi kawasan Cihampelas tempo dulu merupakan tempat menyenangkan bagi pasangan kekasih. Siapa tahu? Bukankah BAndung dikenal sebagai Paris Van Java !!..

sumber foto :
http://www.thepapandayan.com/cihampelas.php

sumber :
http://themanfromthepast.blogspot.com/2010/01/sejarah-jalan-cihampelas-bandung.html





Senin, 08 Juni 2015

kisah menara jam yang terlupakan di kota Bandung


     Sebuah jam yang dipasang untuk publik memiliki fungsi sebagai petunjuk waktu bagi masyarakat. Sebut saja di Bukitinggi dengan jam gadangnya. Atau di London, dengan menara jam setinggi 96 meter yang diberi nama “Big Ben”. Namun di Kota Bandung lain lagi. ada sebuah jam yang kondisinya Saat ini seolah hanya sebatas pajangan, mati segan hidup tak mau. Padahal, sebuah jam bisa menjadi ikon dari sebuah kota. Terlebih lagi keberadaan jam ini sudah berdiri cukup lama dan berlokasi hampir dekat dengan pusat kota Bandung.




      Sebuah menara yang berada di Jalan Abdul Rivai Kota Bandung, jam publik berbentuk tugu dengan ukuran lebih dari lima meter tersebut tampak selalu mati. Dari empat buah jam dinding di setiap sisinya, tak satu pun yang aktif sesuai waktu. Logika kerjanya sama, putaran sempurna. Sebagai informasi, jam publik di taman itu masih analog yang masih menggunakan jarum jam panjang dan pendek. dan kembali keberadaan jam ini seolah tak diperdulikan lagi oleh para pengendara kendaraan yang lalu lalang di sekitarnya. untuk penamaan saja hampir tidak ada yang mengetahuinya. Semoga saja untuk kedepannya pemerintah bisa menyelamatkan jam tersebut.




     Jam dua sudut menara Gedung Bank Mandiri Jalan Asia Afrika seolah mengalami nasib yang serupa. jam yang didesain oleh orang Belanda keadaannya turut memprihatinkan. Menara jam yang berdiri kokoh di bangunan bekas bagian penjara Banceuy itu juga mati. dikutip dari laman http://cakrawalabirumuda.blogspot.com/2009/06/jam-publik-nasibmu-kini.html Menurut Rusmiati (42), seorang penjual ketupat yang biasa mangkal di seputar Jalan Banceuy, jam dinding itu sudah mati sejak puluhan tahun silam. "Saumur teteh, jam nu di gedong eta teh tara pernah bener, tos puluhan taun," jelas Rusmiati sambil menunjukkan jam di menara itu.



       Dulu nama bangunan tersebut bernama bank Escompto kisah singkatnya adalah sebagai berikut. Nederlandsch-Indische-Escompto-Maatschappij atau disingkat NIEM adalah salah satu bank yang beroperasi pada jaman penjajahan Belanda. NIEM atau yang lbih dikenal dengan nama bank Escompto didirikan tahun 1857 dan tetap beroperasi  sampai tahun 1958. Pada  saat perusahaan Belanda dinasionalisasi dan ditetapkan dalam UU No. 86/1958 yang berlaku surut hingga 3 Desember 1957. Bank Escompto diambil alih oleh Pemerintah RI. Tahun 1960 nama Bank ini diganti menjadi Bank Dagang Negara (BDN). BDN ini akhirnya melebur menjadi Bank Mandiri hingga sekarang.



Sumber : 
http://cakrawalabirumuda.blogspot.com/2009/06/jam-publik-nasibmu-kini.html
http://achmadrizal.staff.telkomuniversity.ac.id/2013/10/25/bank-escompto-bank-dagang-negara-sampai-bank-mandiri/

sumber foto :
http://cakrawalabirumuda.blogspot.com/2009/06/jam-publik-nasibmu-kini.html
http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1581005

Via Duct Bandung, jalan menuju suatu arah.



    Waktu saya masih kecil, setiap kali pulang dari rumah nenek saya di cimahi, saya selalu melewati bangunan ini. saya sering bilang "terowongan" tanpa tahu bangunan apa ini. dan ternyata bangunan ini adalah sebuah bangunan bersejarah dari kota Bandung.



   Viaduk atau Viaduct merupakan sebuah jembatan yang terdiri dari kolom/tiang yang berjarak pendek. Kata viaduct berasal dari Bahasa Latin yang artinya melalui jalan atau menuju sesuatu arah. Viaduct di Bandung merupakan kawasan yang diidentifikasi masyarakat sebagai sebuah jembatan kereta api yang di bawahnya ada jalan raya dan Sungai Cikapundung.  Adapun viaduct di Bandung, yang satu lokasinya sebelah barat Stasiun Bandung di jalan Pasirkaliki dan satu lagi di sebelah timur Stasiun itu yakni di Jalan Viaduct. Viaduct yang pertama di Pasir Kalikiweg dibangun pada tahun 1890-an dan yang kedua di Kebon Jukut dibangun pada tahun 1939. Masyarakat sangat mengenal Viaduct dan menjadikannya sebagai salah satu landmark kota.

   Viaduct itu menghubungkan jalan Parapatan Pompa (sekarang Jalan Suniaraja) dengan jalan Braga. Dulu jalan di jalan Braga ini buntu, namanya Gang Effendi. Lalu jalan di samping penjara Banceuy, yang sebelumnya adalah jalan kampung, dibuat tembus sampai ke Jalan Braga di Jalan Naripan. Viaduct yang berlokasi di jalan Viaduct Bandung itu lebih ramai karena jika Anda datang ke sana banyak yang bisa dilihat dan dinikmati sekaligus, seperti: jembatan jalan kereta api diatas jalan raya dan diatas sungai, dan sekaligus sering melihat kereta api lewat maklum dekat ke Satsiun Bandung. Berikut yang bisa dilihat yaitu sungai Cikapundung yang memotong Kota Bandung, ada patung Laswi dan patung Tentara pelajar, ada monument lokomotif, ada gedung tua Kantor PT  KA, dan juga ada gedung Indonesia mengugat.

Sumber :
 http://www.wisatabdg.com/2014/09/viaduct-bandung.html
https://sepanjangjk.wordpress.com/2011/12/10/ada-apa-di-viaduct-kota-bandung-2/
Sumber foto :
https://www.flickr.com/photos/ikhlasulamal/6025688179
https://aiwowma.wordpress.com/2010/07/30/suasana-bandoeng-tempo-doeloe/
https://sepanjangjk.wordpress.com/2011/12/10/ada-apa-di-viaduct-kota-bandung-2/
 https://www.pinterest.com/yusikom/bandung-history-yusikom-/

Minggu, 07 Juni 2015

Taman Loji, Menara yang terlupakan

   

Menara Simbol Kejayaan Perkebunan Karet milik Mr. WA Baron Van Baud yang telah berusia 173 tahun dengan perusahaan Perkebunan Karet bernama Oderneming Van Maatschapaij Baud sekitar  tahun 1841.

                Walikota Bandung terpilih saat ini yaitu Ridwan Kamil cukup aktif membuka banyak taman di Bandung. Sebut saja taman foto, pet park, taman pasupati, taman film dan masih banyak lagi taman taman yang sengaja dibuat untuk ruang publik. namun ada taman yang berdiri cukup lama di pinggiran kota Bandung namun namanya kurang dikenal oleh sebagain penduduk Bandung.

Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah. Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah. Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah. Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
Di Sumedang tempo dulu, Jatinangor merupakan daerah perkebunan, tepatnya daerah perkebunan karet, pemilik perkebunan karet di Jatinangor adalah W.A Baron Baud seorang berkebangsaan Jerman. Jika anda memasuki kawasani kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, anda yang menggunakan kendaraan pribadi dan hendak melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara, anda akan melewati Institut Teknologi Bandung (dulu Universitas Winaya Mukti (Unwim)), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. Tanpa disadari, ternyata di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah. Ketika anda sampai di sekitar ITB Jatinangor, di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik ITB, terdapat sebuah susunan huruf-huruf yang bertulisan "TAMAN LOJI". Mengapa dinamai Taman Loji? karena di dalamnya terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ
    Saat memasuki kampus Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, baik itu mahasiswa maupun umum yang menggunakan kendaraan pribadi akan melewati jalan menanjak yang berawal dari pangkalan bis DAMRI Jatinangor hingga pintu masuk Unpad sebelah Utara. Dalam perjalanan tersebut, para mahasiswa melewati Universitas Winaya Mukti (Unwim), pintu masuk lapangan golf Bandung Giri Gahana, serta jalan menuju Bumi Perkemahan Kiara Payung. Umumnya, mereka melewati jalan itu tanpa memperhatikan sisi jalan. di kawasan itu terdapat sebuah situs bersejarah yang keberadaannya kurang disadari oleh masyarakat.

Di sisi kiri jalan, tepatnya dalam kawasan milik Unwim, terdapat sebuah menara berwarna putih bergaya neo gothic. Pada menara tua dan tidak terurus itu, terdapat tumbuhan liar yang memenuhi. Berbagai coretan pun mengotori tembok putihnya. Menara apakah itu? Kebanyakan orang yang melewati tidak mengetahui apa pun mengenai menara ini, bahkan menyadari keberadaannya pun tidak. Sulit untuk mengetahu nama pasti menara ini. Ada yang menyebutnya Menara Jam. Beberapa pihak menyebutnya sebagai Menara Baron Baud, sesuai dengan nama pemiliknya. Akan tetapi, masyarakat sekitar menamai bangunan putih itu, Menara Loji.

         Pada masa penjajahan, Jatinangor adalah areal perkebunan pohon karet. Pemilik perkebunan karet tersebut adalah seorang pria berkebangsaan Jerman, bernama Baron Baud. Ia bersama perusahaan swasta milik Belanda, pada tahun 1841, mendirikan perkebunan karet yang luasnya mencapai 962 hektar. Perkebunan ini membentang dari tanah IPDN hingga Gunung Manglayang. Untuk mengontrol perkebunannya yang luas, Baron Baud membangun sebuah menara. Menara ini dilengkapi dengan sebuah lonceng yang terletak di puncak menara dan tangga untuk sampai ke puncaknya.


Perkebunan teh Jatinangor pada tahun 1885

Menara Loji memiliki dua fungsi utama. Pertama, untuk mengawasi para penyadap karet yang ia pekerjakan. Kedua, sebagai penanda waktu kerja para penyadap karet. Pada pukul 05.00, lonceng dibunyikan, tanda bagi pekerja untuk mulai menyadap karet. Lonceng kembali berbunyi pada pukul 10.00, sudah saatnya bagi pekerja untuk mengambil mangkuk-mangkuk yang telah terisi getah karet. Terakhir, lonceng dibunyikan lagi pada pukul 14.00, para pekerja diperbolehkan pulang.

Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, tanah perkebunan karet Jatinangor dinasionalisasikan, dan menjadi milik Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang. Sayangnya, Pemda tidak melakukan penjagaan yang baik terhadap situs ini. Pada tahun 1980, lonceng Menara Loji dicuri. Hingga kini, kasus pencurian ini belum terselesaikan. Pada tahun 1990, area perkebunan dialihfungsikan menjadi kawasan pendidikan dengan dibangunnya empat perguruan tinggi, yakni IPDN (Institut Pendidikan Dalam Negeri), Ikopin (Institut Koperasi Indonesia), Unpad, dan Unwim.
        
           Sekira tahun 1980-an lonceng Menara Loji dicuri dan hingga kini kasusnya masih belum jelas; baik mengenai pencurinya, apa motifnya, dan bagaimana tindak lanjut dari pihak berwenang. Bahkan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang pun – selaku pihak yang seharusnya mengawasi pemeliharaan cagar budaya – tidak tahu-menahu mengenai kelanjutan kisah pencurian itu. Saat ini Menara Loji nampak tidak terurus. Perawatan terakhir menara ini berupa pengecatan ulang yang dilakukan oleh pihak Rumah Tangga UNWIM pada tahun 2000.

          Jembatan di Cikuda yang sering disebut dengan nama Jembatan Cincin pada mulanya dibangun sebagai penunjang lancarnya kegiatan perkebunan karet. Jembatan Cincin dibangun oleh perusahaan kereta api yang bernama Staat Spoorwegen Verenidge Spoorwegbedrijf pada tahun 1918 dan berguna untuk membawa hasil perkebunan. Pada masanya jembatan ini menjadi salah satu roda penggerak perkebunan karet terbesar di Jawa Barat dan setiap pagi hari hasil bumi dari Tanjungsari dibawa melalui jembatan ini untuk dijual di Rancaekek. Rutinitas itu berjalan terus sampai kemudian pada Perang Dunia II tentara Jepang mengangkut besi-besi rel untuk dilebur menjadi persenjataan perang.

       Sebagaimana halnya dengan Menara Loji, tidak ada satupun instansi yang mau menangani perawatan jembatan bersejarah ini. Baik Pemda Sumedang maupun PT KAI (Kereta Api Indonesia) – dua pihak yang cukup berkepentingan dengan Jembatan Cincin – menyatakan bahwa pemeliharaan Jembatan Cincin tidak termasuk dalam tanggungjawabnya. Menurut PT KAI, jembatan ini tidak pernah diperbaiki karena sudah tidak digunakan lagi. Sedangkan menurut Dinas Budaya dan Pariwisata Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, perawatan bangunan bersejarah tidak termasuk dalam tanggung jawab dinas tersebut karena dinas ini hanya bertugas memperhatikan dan membina nilai-nilai budaya.


sumber :
http://jatinangorpisan.blogspot.com/2008/01/menara-loji-saksi-sejarah-yang.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Jatinangor,_Sumedang

sumber foto :
http://sugenghadiyono.blogspot.com/2014/06/mengintip-kawasan-perkotaan-jatinangor.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Jatinangor,_Sumedang
http://log.viva.co.id/news/read/421819-bangunan-tempo-dulu-di-jatinangor Putri Megasarifey777

Jumat, 05 Juni 2015

Kerkhoff di Bandung Tempo dulu (bagian 3)


      Masih soal kerkhoff di Bandung, selanjutnya ada makam unik lain yang dapat kita temukan di makam Pandu. Pada makam ini terdapat patung seseorang berpakaian pilot dan helm yang sedang menundukkan kepala sambil memegang batu nisan. Pada nisan yang dipegangnya itu tertera nama Charles Philippe Marie Mathus Bogaerts dengan tahun lahir 1900 dan wafat 1933. Makam ini tidak sendirian, di sebelah kanannya terdapat sebuah makam lain dengan pahatan nama yang sudah samar, Johannes Cornelis Pols. Baling-baling pesawat yang sudah retak dan terbuat dari batu terletak di bagian atas makam. Angka tahun wafatnya sama dengan Bogaerts, 1933.

   
Kedua makam dengan bentuk unik ini agak tertimbun tanah dan tumbuhan liar. Ketiadaan informasi memang membuat makam ini tidak berbicara banyak. Namun dari catatan sejarah penerbangan di Indonesia dapat diketahui bahwa J. C. Pols adalah seorang penerbang berpangkat Letnan Satu Infanteri, sedangkan Dr. Ir. CPM. M. Bogaerts adalah seorang insinyur mesin militer dengan pangkat Kapten Infanteri. Kedua orang ini tewas dalam kecelakaan pesawat Fokker F.C. V 442 di Padalarang pada tanggal 31 Agustus 1933.




 
Kompleks Makam Laci
    Makam di blok ini mempunyai bentuk yang berbeda dengan makam pada umumnya. Di sini makam-makam hanya terlihat bagian nisannya saja yang terpajang berjajar dalam dua tingkat sehingga membentuk dinding yang penuh dengan nisan. Sepintas tampak hanya seperti susunan nisan yang ditempel di sebuah dinding. Tetapi ternyata bentuk sesungguhnya tidaklah seperti itu. Nisan-nisan ini seperti laci yang dapat kita tarik keluar. Di balik setiap nisan terdapat ruang memanjang yang cukup luas untuk menyimpan sebuah peti jenazah. Pada bagian bawah ruang terdapat dua jalur besi seperti rel yang berfungsi untuk menggeser masuk atau keluarnya peti jenazah.
Di Permakaman Pandu terdapat dua kompleks Makam Laci yang terpisah lokasinya. Masing-masing lokasi memiliki 52 kolom laci yang terbagi dalam barisan memanjang dan bertingkat dua. Nisan-nisan yang terpasang memiliki bentuk yang hampir mirip, umumnya persegi panjang, namun dengan bahan yang berbeda. Ada yang berbahan batu andesit, marmer lokal, sampai marmer impor dari Italia. Dari seluruh nisan yang ada, hanya sebagian saja yang tulisan-tulisannya dapat dibaca dengan mudah, yang lainnya kebanyakan sudah agak kabur dan perlu upaya ekstra agar dapat membacanya.

    Sebagian makam laci berada dalam kondisi yang menyedihkan, banyak batu nisan yang hilang sehingga bagian dalam makam terbuka lebar. Beberapa tahun lalu bahkan masih dapat kita temukan sisa tulang-belulang di dalam beberapa makam. Sebagian lagi dalam kondisi hampir seluruh bagian nisan tertutup tumbuhan liar. Selain beberapa nisan baru, seluruh nisan pada Makam Laci ini berasal dari tahun sebelum 1950.



  
Ereveld Pandu
Ereveld atau “Taman Kehormatan” Pandu adalah lokasi pemakaman tentara Belanda atau Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) yang tewas pada masa revolusi kemerdekaan RI. Makam ini tertutup untuk umum, hanya anggota keluarga atau ahli waris saja yang dapat berkunjung ke sini. Selain pihak keluarga atau pemerintahan, maka siapa saja yang ingin berkunjung harus mendapatkan surat izin terlebih dulu dari kantor pusatnya di Jakarta. Di Indonesia terdapat tujuh kompleks Ereveld dan dua di antaranya ada di Priangan, yaitu di Bandung dan di Leuwigajah, Cimahi. Lima lainnya adalah Ereveld Menteng Pulo dan Ereveld Ancol di Jakarta, Ereveld Kalibanteng dan Candi di Semarang, dan Ereveld Kembang Kuning di Surabaya. Seluruh kompleks Ereveld ini mendapatkan biaya pemeliharaan dari pemerintah Belanda.


Kompleks Makam Pejuang Indonesia
Bila pejuang Belanda dimakamkan di Taman Kehormatan atau Ereveld yang sangat rapi dan teratur, lain lagi dengan pejuang Indonesia. Para pejuang pribumi ini dimakamkan di permakaman umum tanpa batas area yang jelas. Umumnya makam para pejuang ini ditandai dengan sebilah bambu kuning dengan bendera merah-putih yang ditancapkan di sebelah batu nisannya. Dari 109 makam yang berjajar dua baris ini hanya sedikit saja yang memiliki nama, yang lainnya hanya memiliki nomor saja pada nisannya. Salah satu makam pejuang di sini beberapa tahun lalu hampir saja dibongkar sebelum akhirnya diketahui tercatat atas nama Alexander Jacob Patty, seorang pejuang radikal dari Saparua yang wafat di Bandung pada tahun 1957.





sumber foto :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2014/04/29/1269/

 sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2014/04/29/permakaman-bandung-tempo-dulu/

Kamis, 04 Juni 2015

Kerkhoff di Bandung Tempo dulu (bagian 2)

    


    Sebagian makam yang dibongkar dari Kebon Jahe dipindahkan ke Makam Kristen Pandu dan masih dapat ditemui di sana. Apabila makam-makam ini dikumpulkan di dalam satu area, tentu masih mampu menghadirkan cerita-cerita Bandung tempo dulu yang belakangan ini semakin diminati masyarakat Bandung. Berikut ini sebagian cerita nisan dan makam yang masih dapat disaksikan di kompleks Permakaman Pandu.

Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker
Di bidang arsitektur, kita sering dengar ungkapan bahwa Bandung adalah kotanya Schoemaker. Pernyataan seperti itu muncul karena di seluruh wilayah Bandung tersebar bangunan-bangunan monumental hasil karya arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker. Sebut saja Gedung Merdeka, Hotel Preanger, Gedung Majestic, Gedung Landmark, Gereja Bethel, Katedral Santo Petrus, Gedung Jaarbeurs (Kologdam), Villa Isola, Gedung PLN, Gedung Sabau, Masjid Cipaganti dan masih banyak lagi.
Wolff Shoemaker adalah seorang arsitek dan guru besar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB). Ia lahir di Banyu Biru pada tanggal 25 Juli 1882, wafat di Bandung tanggal 22 Mei 1948 dan dimakamkan di Permakaman Pandu. Bentuk makamnya sangat sederhana dengan nisan berdiri berisi keterangan tanggal lahir dan wafat serta teks singkat riwayat hidupnya. Arsitek ini juga dikenal sebagai guru calon presiden RI pertama, Sukarno, semasa kuliah dan setelah bekerja sebagai juru gambar di biro arsitek milik Schoemaker. Sayang sekali tokoh ini sempat terlupakan sehingga makamnya pun hampir dibongkar karena tunggakan pembayaran pajak antara 1994-2006 sebesar Rp. 180.000,-.


Raymond Kennedy
Sepintas tidak ada yang istimewa dari makam ini. Tidak memiliki bentuk yang unik, tidak mewah seperti makam-makam di sekitarnya. Makam ini bahkan tidak akan menarik perhatian Anda bila melintasinya. Makam ini ditandai dengan dua buah nisan, satu nisan berdiri dan satu nisan berbaring. Nisan yang berdiri berupa batu besar dan tinggi, di beberapa bagiannya sudah ditumbuhi lumut sedangkan di bagian bawah sudah tertimbun tanah dan semak-semak. Pada batu itu terpahat nama yang sudah samar, Raymond Kennedy. Dibawah nama itu mungkin sebelumnya ada satu plakat lain, namun sudah hilang entah kemana.

Kennedy adalah seorang profesor antropologi dari Yale Univeristy yang sudah menulis tiga buah buku tentang etnologi Indonesia. Pada tahun 1950, Kennedy sudah tinggal setahun di sini dan sedang mengadakan penelitian tentang pengaruh kebudayaan barat di Indonesia. Semestinya, nisan Raymond Kennedy ini tidak sendiri, ada nisan seorang rekannya yang juga ikut terbunuh di jalur jalan antara Cimalaka dan Tomo, Robert Doyle, seorang jurnalis dari majalah Time and Life yang sedang mengadakan penelitian di kalangan petani di Priangan. Raymond Kennedy dan Robert Doyle sedang dalam perjalanan menuju Cirebon ketika di suatu lokasi dekat Cimalaka mereka dihentikan dan diinterogasi oleh sekelompok serdadu KNIL. Tidak jelas apa yang terjadi dalam interogasi itu, tetapi keduanya ditembak mati di tempat. Para serdadu memerintahkan warga untuk merahasiakan kejadian itu dan agar segera menguburkan kedua jenazah mereka. 

Selang sehari jenazah kedua orang ini ditemukan dan keesokan harinya berita tentang mayat Robert Doyle sudah dimuat di koran The New York Times. Kejadian ini dianggap sangat misterius sampai Perdana Mentri Moh. Hatta ikut berkomentar dan meyakinkan masyarakat bahwa Pemerintah Indonesia tidak akan menelantarkan kasus ini sampai orang-orang yang bertanggung jawab diungkap dan dibawa ke pengadilan.Pada tanggal 30 April warga Amerika berkumpul untuk ikut mengantarkan jenazah Raymond Kennedy dan Robert Doyle yang dimakamkan di Permakaman Pandu. Beberapa waktu kemudian, para koleganya mempersembahkan monumen dan plakat yang sampai kini masih berdiri – walaupun tidak terawat – di Permakaman Pandu.



Makam Raymond Kennedy-1

Mausoleum Ursone
Mausoleum adalah bangunan yang memiliki ruangan untuk menyimpan satu atau lebih makam di dalamnya. Di Bandung, beberapa bangunan semacam ini dapat ditemukan di Permakaman Cikadut. Di dalam kota, mungkin hanya di Permakaman Pandu saja terdapat sebuah mauseloum dari masa Hindia Belanda, yaitu milik keluarga pengusaha peternakan berkebangsaan Italia, Ursone. Bangunan mausoleum yang indah ini berbentuk seperti kuil zaman Romawi kuno dengan dua patung malaikat di kedua sisi depannya mengapit pintu masuk. Pada bagian atas tertera tulisan dalam bahasa Latin – ORATE PRO NOBIS – yang berarti “Doakanlah Kami” dan di bawahnya, atau tepat di atas pintu masuk, terdapat tulisan Fam. Ursone.

Keluarga Ursone pernah membawa Kota Bandung menjadi sangat terkenal di awal abad ke-20. Keluarga ini membuka peternakan sapi di wilayah Lembang pada tahun 1895, lalu mendirikan pabrik pemerahan susu Lembangsche Melkerij Ursone yang terkenal sebagai pabrik penghasil susu berkualitas tinggi di Hindia Belanda. Saat mengawali peternakannya, keluarga Ursone memiliki 30 ekor sapi perah yang didatangkan langsung dari daerah Friesland di negeri Belanda. Dalam waktu singkat jumlah sapi ini bertambah sampai 250 ekor. Produksi susu yang awalnya hanya 100 botol saja bertambah menjadi ribuan liter setiap harinya. Produksi susu yang melimpah ini kemudian ditampung di Bandoengsche Melk Centrale, yaitu badan usaha gabungan para peternak dan pengusaha susu yang memiliki fasilitas pengolahan modern dan jaringan distribusi yang lebih luas.

Makam yang bangunannya dilapisi batu marmer ini merupakan pindahan dari kerkhoff Kebon Jahe.  Terdapat delapan nama dengan 11 nisan yang terpasang baik di bagian luar atau bagian dalam mauseloum ini. Kedelapan nama itu adalah A. C. Ursone v Dijk, A. Ursone, Antonio Domenico De Biasi, Dr. C. G. Ursone, G.M. Ursone, J. A. G. van Dijk, M. G. Ursone, P. A. Ursone.Tanggal lahir dan tanggal wafat ditulis dengan cara yang unik. Pada plakat A. C. Ursone v Dijk tertulis  –   yang artinya lahir pada tanggal 28 April 1881 dan wafat pada tanggal 10 Agustus 1919. Pada plakat Antonio Domenico De Biasi tertera   –   yang berarti lahir 12 Januari 1883, wafat 26 Desember 1966. Begitu pula pada plakat lainnya. Selain itu terdapat satu plakat besar di bagian dalam bangunan makam. Pada plakat yang berbaring itu tertulis nama Maria Giuseppa Ursone dengan keterangan lahir di Italia 23 April 1839 wafat di Bandoeng 1 September 1897.


 (to be Continue)

sumber & foto  : https://mooibandoeng.wordpress.com/2014/04/29/1269/







Kerkhoff di Bandung Tempo dulu (bagian 1)


    Sampai awal tahun 1970-an, ada objek wisata yang mungkin terdengar ganjil di kota Bandung, yaitu area permakaman. yang pasti bukan permakaman umum biasa, melainkan permakaman khusus bagi orang-orang  Eropa yang bermukim di kota Bandung, pemakaman orang orang Eropa tersebut biasa disebut Kerkhof yang pada waktu itu terletak di Kebon Jahe. Kenapa tidak biasa? Ya seperti yang kita tahu, makam-makam orang Eropa biasa diberi hiasan-hiasan secantik mungkin sehingga mengurangi kesan angker di kompleks makam.

     Bentuk hiasan makam tersebut bermacam-macam, ada patung-patung marmer yang indah berbentuk malaikat atau bidadari, pot-pot bunga berbahan porselen, gelas, sampai kuningan pun ada. Nisan-nisan berbagai ukuran dan bahan diukir dengan indah. Kadang nisan itu berbentuk prasasti dengan ukuran sampai sebesar pintu rumah dan diletakkan terbaring di atas tanah. Ornamen makam pun bermacam-macam, semuanya bergaya tradisional Eropa. Membuat kesan makam atau kuburan hilang, berbeda dengan makam makam lokal yang selalu dihinggapi oleh kesan atau nuansa angker.
     
      Cerita keadaan Kerkhof Kebon Jahe dan kegiatan pelesiran di kawasan tersebut dituliskan juga oleh Us Tiarsa dalam bukunya “Basa Bandung Halimunan” (Penerbit Yayasan Galura, 2001). Kerkhof Kebon Jahe dalam kenangan Us Tiarsa adalah tempat yang nyaman, asri, dan banyak mendapatkan kunjungan masyarakat, bukan hanya warga sekitar tetapi juga datang dari daerah lain di Bandung. Bunga-bungaan yang tersusun indah dan pohonan yang meneduhkan ditanam di seluruh penjuru permakaman.

     Kaum tua biasa berkelompok mengobrol atau membaca buku di tempat teduh, sering tampak orang-orang bermain catur. Yang remaja main lompat-lompatan antarsuhunan makam, sedangkan anak-anak bermain kucing-kucingan atau berburu potongan marmer untuk dijadikan kelereng. Potongan marmer dibentuk bulat dengan cara dipukuli memakai besi tumpul, lalu dihaluskan menggunakan hampelas. Kadang, marmer itu ditumbuk sampai menjadi bubuk halus dan dijadikan bubuk pembersih porselen atau barang kerajinan.

      Tapi Kerkhof Kebon Jahe sudah lama hilang dari Kota Bandung. Kompleks permakaman ini dibongkar pada tahun 1973 untuk dijadikan lapangan olah raga yang kita kenal sekarang dengan nama GOR Pajajaran. Sejumlah makam yang ada dipindahkan ke beberapa lahan lain seperti ke Permakaman Kristen Pandu, Sadangserang, dan kompleks makam di sebelah barat Tamansari. Entah bagaimana pemilihan makam yang dipindahkan itu tetapi sepertinya tidak semua makam terpindahkan. Mungkin sebagian rusak dan hancur, lalu musnah. Sebagian lagi tercecer di sana-sini seperti sebuah nisan besar yang dijadikan alas cucian warga di sekitar mata air Ciguriang.



prosesi pemakaman di kerkhoff pandu 



 sumber foto :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2014/04/29/1269/

 sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2014/04/29/permakaman-bandung-tempo-dulu/
















Rabu, 06 Mei 2015

Homann, Hotel tempat para bintang di kota Bandung



    Jika ada pertanyaan mengenai salah hotel yang terkenal dan bersejarah di Bandung kira kira apa? mungkin akan mencuat beberapa nama hotel, tapi pasti salah satunya adalah hotel Homann. banyak bintang yang pernah menginap disana, konon katanya salah satunya adalah Charlie chaplin. bagaimana kisah perjalanannya. mari kita baca bersama sama.



    Hotel Homann dalam keadaan 1910-1937. Hotel ini dulu hanyalah sebuah rumah bilik bambu yang sejak 1871 dimanfaatkan menjadi penginapan. Pemilik adalah Adolf dan Maria Homann dari Jerman. Pada awalnya penginapan ini bernama Hotel Post Road. Letaknya di Groote Postweg atau yang sekarang lebih dikenal dengan jalan Asia -Afrika No. Pada tahun 1883 hotel Homann direnovasi dalam gaya arsitektur Eklektis berdasarkan karya arsitek G. Westerlo. Nama berubah menjadi Hotel Homann. Pada tahun 1884 sebuah pesta besar diadakan disini untuk merayakan pembukaan jalur kereta api yang menghubungkan Bandung dan Batavia. Renovasi dengan penambahan hiasan Art Nouveau dan perubahan nama hotel menjadi Grand Hotel Homann terjadi pada tahun 1910.

Maria & Adolf Homann pemilik pertama hotel Homann
   
    Grand Hotel Homann mulai direnovasi lagi pada Tahun 1929 dengan warna bergaya seni Art Deco, tidak saja pada  fisik bangunan tetapi hingga hiasan interior, jendela kaca patri, ornamen dinding, dan lampu. Perkakas rumah tangga bergaya Art Deco disuplay oleh toko Roth & Son dari Jl Braga. Hotel ini tidak lagi dikelola keluarga Homann, tetapi oleh Frederik van Es, mantan pengelola Hotel des Indes dari Batavia. Nama hotel pun berubah lagi menjadi Hotel Savoy. Nama Savoy dipinjamkan dari Hotel Savoy di London (Inggris) yang pada jaman itu merupakan salah satu hotel paling keren di dunia. Hotel ini sudah dilengkapi dengan sarana sanitasi modern di saat itu juga. Pada tahun 1930, majalah bulanan Interocean (diterbitkan Official Tourist Bureau dari Batavia) ada iklan dari Hotel Savoy yang berbunyi: „Latest sanitary Arrangements Hot and Cold Water English Baths, First Class Cuisini and Comfort“. Sebuah „English Bath“ adalah jambang mandi yang kecil. Bukan bak mandi berendam (bathtube) yang cukup besar untuk tidur.



    Tamu yang pernah menginap di hotel ini bukanlah sembarang tamu, banyak tokoh tokoh dunia yang juga menginap di hotel ini beberapa diantaranya adalah: Raja Siam Rama V Chulalongkorn, Pangeran Leopold dari Belgia, Duchess of Westminster Loelia Mary Ponsonby, Charlie Chaplin, Gubernur Jenderal Indocina Perancis, Susuhunan Solo dan lain-lain. Pakubuwono X pernah menginap di hotel ini juga. Pada saat sang raja menginap di hotel ini, banyak orang yang tidur di jalan depan hotel untuk mengharapkan berkah sang Raja.



   Selain itu ada juga bintang film kenamaan Charlie Chaplin dan juga aktris dari Canada Mary Pickford. Hotel Homann melakukan promosi besar-besaran pada saat mereka menginap disana. Saat itu, masyarakat datang berbondong-bondong. sembari berteriak: Chaplin! Chaplin!. Polisi datang untuk menenangkan massa. Namun mereka kewalahan karena  fans Chaplin lebih banyak daripada polisi. karena itu, dibuat sebuah sebuah strategi, yaitu dua orang pemain drama didandani seperti Charlie dan Mary. Lalu Charlie dan Mary palsu itu mengendarai mobil Plymouth keluar melalui pintu gerbang hotel sedangkan mereka dikawal ketat polisi-polisi bermotor. Lalu Charlie dan Mary asli diantar ke stasiun lewat jalur lain. 


    Sayang, setelah tentara Jepang datang hotel ini berantakan. Bahkan hotel dijadikan asrama opsir Jepang pada tahun 1942. Hotel berikut fasilitasnya menjadi rusak terbengkalai. Pada tahun 1945, fungsinya diubah menjadi markas Palang Merah Internasional. Baru setahun kemudian dikembalikan kepada Frederik van Es yang menutup mata pada tahun 1952. Pada tahun 1953, R.M. Saddak yang pada saat itu anggota DPR RI membeli sahamnya senilai 60% dari Istri van Es. Dan pada tahun 1957, sisa saham yang dimiliki W.H. Hoogland juga dibeli oleh Saddak juga, sehingga 100% saham dimiliki oleh Saddak.

   Pada KAA 1955, Soekarno menginap di Savoy Homann juga di kamar 244 (Homann Suite). Ruangan itu kini sudah banyak direnovasi sehingga jauh lebih luas dari sebelumnya. Kini, kita bisa menginap di kamar 244 dengan tarif Rp 2.450.000 Rp. Kehadiran para tokoh penting KAA di hotel yang dibangun tahun 1871 itu tercatat dengan rapi dalam sebuah buku tamu yang kini usianya mencapai setengah abad. Nama dan tanda tangan mereka mengisi setiap halamannya. Buku besar itu tidak diperlihatkan kepada sembarang orang dan hanya dikeluarkan pada momen-momen penting.

Golden book of KAA




sumber :
https://tempojadul.wordpress.com/2012/08/15/savoy-homann-hotel/

Sumber foto :
http://bandungsae.com/HotelHomann.jpg
http://www.savoyhomann-hotel.com/images/blog/blog1.jpg
https://kataokita.files.wordpress.com/2012/01/savoy-homann.jpg
http://www.pentalpha.nl/baroe/images/mini-Bandoeng_Savoy_Homann.jpg
http://farm4.static.flickr.com/3072/3039011063_c9269ffb0b.jpg

Rabu, 01 April 2015

Amuk Sangkuriang di Citatah Padalarang, catatan seorang Budi Brahmantyo.




Pagi tadi saya mencoba mencari data mengenai padalarang, ada yang menggelitik keingin tahuan saya mengenai asal usul nama padalarang. kenapa sih namanya padalarang? pada ngelarang? atau padang (tegalan/bukit) yang terlarang? setelah browsing sana sini, buka buku sana sini akhirnya saya mendarat di salah satu situs yang memuat tulisan pak Budi Brahmantyo, beliau adalah koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung. 

awalnya saya pikir ini mengenai asal usul kata Padalarang, tapi ternyata isinya lebih menarik lagi karena selain mengenai konservasi lingkungan tulisan beliau juga berisi korelasi (hubungan) antara nama nama tempat di padalarang dengan cerita sangkuriang yang ngebet untuk memperistri ibu kandungnya sendiri yang tidak ia sadari. yuk kita simak sama sama tulisan beliau.

 Amuk Sangkuriang di Citatah.

Bagi beberapa penduduk sepuh di kampung-kampung pelosok perbukitan kapur Tagogapu – Citatah – Rajamandala, sebelah barat Bandung, cerita amarah Sangkuriang sedikit berlanjut. Cerita lisan yang didapat dari seorang sesepuh Kampung Rancamoyan, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat mungkin menarik untuk disimak.

Menurut sesepuh itu, sebenarnya amarah Sangkuriang tidak berhenti dengan menendang perahu dan kemudian mengejar Putri Dayang Sumbi. Sangkuriang juga mengobrak-abrik persiapan pesta pernikahan. Selain perahu, semua barang ditendanginya.




Berdasarkan sakakala Sangkuriang yang berlanjut di perbukitan kapur Citatah itulah, beberapa toponim bukit kapur berkaitan erat dengan legenda amarah Sangkuriang menghancurkan persiapan pestanya itu. Pasir (disingkat Pr. = bukit) Pawon yang berarti dapur, Pr. Leuit (lumbung), Pr. Pabeasan (tempat beras), Gunung Hawu (tungku), Pr. Kancahnangkub (wajan/panci yang terbalik), semuanya merupakan bukit-bukit yang terpisah jauh. Begitu pula Pr. Bende dan Gua Ketuk yang berarti alat tetabuhan, serta Pr. Manik yang berarti perhiasan. Makanan dan minuman terburai menjadi Ci Bukur. Bukur dalam bahasa Sunda adalah sisa-sisa makanan.


Cerita selanjutnya menurut kasepuhan Rancamoyan itu, Sangkuriang menyiapkan pelaminannya di satu bukit kapur yang bernama Karangpanganten. Ijab kabulnya direncanakan di Gunung Masigit atau masjid. Di sini cerita yang sebenarnya berbasis Hinduisme sudah terpengaruh oleh Islam. Tak utuh lagi

Kemarahan Sangkuriang yang mengejar-ngejar Dayang Sumbi diekspresikan di dalam toponim sungai Ciluncat, tempat dimana pengejaran itu meloncat-loncat. Kadang kala kejar-kejaran tersebut ada rehatnya juga sehingga Sangkuriang sempat berjemur di Rancamoyan, yang berarti rawa tempat moyan, berjemur. Keseluruhan peristiwa itu dicatat sebagai suatu bencana yang diterapkan pada nama satu bukit kapur, Pr. Bancana.



Jika berkendaraan dari Padalarang ke arah Cianjur, kita akan dapati semua toponim bukit dan sungai itu tersebar sejak Km.20 di Ciburuy hingga Km.27 di Cibogo. Setelah melewati Situ Ciburuy dari Padalarang, satu persatu kita akan temui bukit-bukit itu, diawali Pr. Pabeasan di selatan atau kiri jalan.

Bukit kapur tegak ini terkenal di kalangan pemanjat tebing sebagai Tebing-125 karena berketinggian 125 m, dinding tegak tertinggi di perbukitan ini. Di baliknya terdapat G. Hawu. Suatu dinding yang jika dilihat dari arah selatan tampak berlubang menganga, membentuk suatu lengkung alami yang sangat indah. Memang persis seperti tungku kayu bakar dengan lubang perapiannya berupa lubang vertikal sedalam kira-kira 90 m. Satu bukit kecil Pr. Kancahnangkub berada jauh di selatan Pr. Pabeasan pada perbukitan bukan kapur.


Kira-kira pada Km. 22 akan kita dapati Karangpanganten berupa bukit-bukit tegak runcing di sebelah utara atau kanan jalan. Di sebelahnya, berderet Pr. Pawon sebagai satu-satunya bukit kapur yang masih utuh karena keberadaan situs manusia purbakala, dan Gunung Masigit, bukit kapur berbentuk kerucut yang rusak karena galian batu kapur hingga ke puncak-puncaknya.

Lalu ke arah barat kita jumpai Pr. Leuit yang sulit dikenali lagi dan Pr. Bancana yang juga menganga ke atas karena galian kapur juga. Cibukur, Ciluncat dan Rancamoyan sedikit masuk ke pedalaman dari jalur jalan raya ke arah utara. Semakin ke arah barat, kita akan jumpai Pr. Manik yang masih utuh karena bukit kapur ini dikuasai Kopasus untuk latihan panjat tebing. Di atas puncak bukit dengan tebing setinggi 49 m ini “tertancap” belati komando raksasa sebagai ciri yang cukup mencolok. Jauh di sebelah selatan, terdapatlah Pr. Bende yang bernasib lebih buruk, jadi lahan tambang juga.

Bagaimana nasib bukit-bukit itu sekarang? Dari hasil pengamatan di lapangan maupun dengan sedikit bantuan citra satelit, dapat disimpulkan bahwa hampir tidak ada satu pun bukit kapur yang masih utuh. Tiga di antaranya, yaitu Pr. Pawon, Pr. Manik dan Pr. Sangiangtikoro masih baik. Hal ini karena Pr. Pawon memiliki Gua Pawon yang telah menjadi situs arkeologis dan merupakan sumber air bersih bagi masyarakat di hilirnya, sedangkan Pr. Manik dikuasai Kopasus, dan Pr. Sangiangtikoro berada di bawah otoritas PLTA Saguling. 

Bukit-bukit yang lain tinggal menunggu waktu untuk hancur dan rata. Gunung Masigit yang dikeroyok tujuh pengusaha galian batu kapur, dari tahun ke tahun berubah drastis dan akan kehilangan ciri morfologinya yang unik. Apalagi bagi ilmu geologi, bukit ini adalah bukit sangat penting karena merupakan lokasi tipe bagi Formasi Rajamandala, yaitu lokasi standar stratigrafi untuk jenis batu gamping yang berumur 30 – 23 juta tahun yang lalu ini. Pasir Pabeasan relatif aman karena setiap minggu selalu ada latihan panjat tebing. Begitu pun G. Hawu yang ada di belakangnya. Namun, jangan tanya bagaimana rangkaian punggungan bukit ini persis di kiri dan kanannya hancur juga dengan tangan-tangan mesin backhoe yang tanpa ampun menggerogoti. Pr. Bancana, Pr. Bende, G. Guha dan Pr. Guha di Kabupaten Cianjur tidak luput dari incaran pengusaha pengolahan kapur.

Habis

Pertanyaan berikutnya, sampai kapan usaha ini berlanjut? Mestinya sampai semua batu kapur habis atau ludes. Lalu inilah skenario terburuk yang tergambar di pelupuk mata: di bawah batu gamping tersembul batu lempung yang menjadi penyebab longsor utama di sepanjang jalur ini. Batu lempung ini juga cenderung tidak subur. Lalu hilang pula sumber-sumber air bersih yang tadinya berupa mata air pada kontak batu kapur – batu lempung. Inilah warisan yang akan kita berikan untuk anak cucu kita sendiri di masa depan! Palias…

Syukur, kesadaran akan masa depan yang tergambar buruk di Citatah rupanya telah mulai disadari. Pada 18 Desember 2007, Gubernur Jawa Barat melakukan acara Ngarumat Pr. Pabeasan jeung G. Hawu untuk memelihara lingkungan di sekitar dua bukit unik ini. Selanjutnya pada 29 Desember 2007 diadakan sarasehan di depan Gua Pawon yang berhasil mengikat komitmen legislatif dan eksekutif Kabupaten Bandung Barat untuk menata kawasan Goa Pawon dan Gunung Masigit serta seluruh kawasan kars Citatah berwawasan lingkungan.




sumber :
http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=49

sumber foto :
http://korantekno.com/article/94080/danau-bandung-pada-jaman-purbakala.html
https://kangope.wordpress.com/tag/hiking/