Selasa, 27 Januari 2015

Masjid Agung Provinsi Jawa Barat

        Akhir akhir ini warga bandung di buat terkagum kagum oleh salah satu buah tangan Bapak Walikota bandung saat ini yaitu Bapak Ridwan Kamil yang berhasil menyulap taman alun alun dan masjid agung yang tadinya biasa saja menjadi sebuah aren berkumpul yang nyaman.

     Siapapun akan sepakat bahwa lapangan alun alun menjadi sebuah euforia para warga yang sudah rindu akan tempat terbuka hijau di kota Bandung. Berdampingan dengan lapangan alun alun Bandung berdiri pula bangunan megah yang menjadi salah satu ikon di kota Bandung. Masjid yang bersejarah yang telah menyaksikan perjalanan panjang kota bandung berdiri dengan megah nan indah tepat diseberang lapangan alun alun Bandung. Ia telah menjadi saksi bisu akan apa yang terjadi dalam riak gelombang sebuah kota.

     Masjid Raya Bandung provinsi jawa Barat,  dulu dikenal dengan nama Masjid Agung Bandung. Status masjid ini adalah sebagai masjid provinsi bagi Jawa Barat. Masjid ini pertama dibangun tahun 1810, dan sejak didirikannya, Masjid Agung telah mengalami delapan kali perombakan pada abad ke-19, kemudian lima kali pada abad 20 sampai akhirnya direnovasi lagi pada tahun 2001 sampai sampai peresmian Masjid Raya Bandung 4 Juni 2003 yang diresmikan oleh Gubernur Jabar saat itu, H.R. Nuriana. Masjid baru ini, yang bercorak Arab, menggantikan Masjid Agung yang lama, yang bercorak khas Sunda.
Kemegahan Masjid Agung Bandung waktu itu sampai-sampai di-abadikan dalam lukisan pelukis Inggris bernama W Spreat pada tahun 1852. Dari lukisan tersebut, terlihat atap limas besar bersusun tiga tinggi menjulang dan mayarakat menyebutnya dengan sebutan bale nyungcung


        Masjid Raya Bandung Jawa Barat sebelumnya bernama Masjid Agung didirikan pertama kali pada tahun 1812. Masjid Agung Bandung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat kota Bandung dari Krapyak, sekitar sepuluh kilometer selatan kota Bandung ke pusat kota sekarang. Masjid ini pada awalnya dibangun dengan bentuk bangunan panggung tradisional yang sederhana, bertiang kayu, berdinding anyaman bambu, beratap rumbia dan dilengkapi sebuah kolam besar sebagai tempat mengambil air wudhlu. Air kolam ini berfungsi juga sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di daerah Alun-Alun Bandung pada tahun 1825.

       Setahun setelah kebakaran, pada tahun 1826 dilakukan perombakkan terhadap bangunan masjid dengan mengganti dinding bilik bambu serta atapnya dengan bahan dari kayu. Perombakan dilakukan lagi tahun 1850 seiring pembangunan Jalan Groote Postweg (kini Jalan Asia Afrika). Masjid kecil tersebut mengalami perombakkan dan perluasan atas instruksi Bupati R.A Wiranatakusumah IV atap masjid diganti dengan genteng sedangkan didingnya diganti dengan tembok batu-bata. Seiring perkembangan zaman, masyarakat Bandung menjadikan masjid ini sebagai pusat kegiatan keagamaan yang melibatkan banyak umat seperti pengajian, perayaan Muludan, Rajaban atau peringatan hari besar Islam lain bahkan digunakan sebagai tempat dilangsungkan akad nikah. Sehingga pada tahun 1900 untuk melengkapinya sejumlah perubahan pun dilakukan seperti pembuatan mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan).  Pada tahun 1930, kembaliperombakan  dilakukan dengan membangun pendopo sebagai teras masjid serta pembangunan dua buah menara pada kiri dan kanan bangunan dengan puncak menara yang berbentuk persis seperti bentuk atap masjid sehingga semakin mempercatik tampilan masjid. Konon bentuk seperti ini merupakan bentuk terakhir Masjid Agung Bandung dengan kekhasan atap berbentuk nyungcung. 


            Menjelang konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalamai perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total diantaranya kubah dari sebelumnya berbentuk “nyungcung” menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang. Selain itu menara di kiri dan kanan masjid serta pawestren berikut teras depan dibongkar sehingga ruangan masjid hanyalah sebuah ruangan besar dengan halaman masjid yang sangat sempit. Keberadaan Masjid Agung Bandung yang baru waktu itu digunakan untuk shalat para tamu peserta Konferensi Asia Afrika.


         Kubah berbentuk bawang rancangan Sukarno hanya bertahan sekitar 15 tahun. Setelah mengalami kerusakan akibat tertiup angin kencang dan pernah diperbaiki pada tahun 1967, kemudian kubah bawang diganti dengan bentuk bukan bawang lagi pada tahun 1970. Berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat tahun 1973, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan besar-besaran lagi. Lantai masjid semakin diperluas dan dibuat bertingkat. Terdapat ruang basement sebagai tempat wudlu, lantai dasar tempat shalat utama dan kantor DKM serta lantai atas difungsikan untuk mezanin yang berhubungan langsung dengan serambi luar. Di depan masjid dibangun menara baru dengan ornamen logam berbentuk bulat seperti bawang dan atap kubah masjid berbentuk Joglo.

                Perubahan total terjadi lagi pada tahun 2001 merupakan bagian dari rencana penataan ulang Alun-alun Bandung dalam perencanaan tersebut penataan Masjid Agung dan alun alun merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan tanpa mengurangi arti alun alun sebagai ruang terbuka umum. Proses pembangunan Masjid Raya Bandung dimulai dengan peletakan batu pertama prose pembangunan kembali pada tanggal 25 Februari 2001. Keseluruhan proses pembangunannya memakan waktu selama 829 hari (2 tahun 99 hari) sejak peletakan batu pertama hingga diresmikan tanggal 4 Juni 2003 oleh Gubernur Jawa Barat H.R. Nuriana. Secar keseluruhan proses pembangunan dan penataan ulang kawasan alun alun dan masjid Agung Bandung dinyatakan selesai pada tanggal tanggal 13 Januari 2006. Bersamaan dengan pergantian nama dari Masjid Agung Bandung menjadi Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat serta menyandang predikat sebagai masjid provinsi, namun masyarakat Bandung kebanyakan masih menyebutnya sebagai Masjid Agung Bandung. 

             nah, itulah sedikit mengenai perjalanan panjang masjid agung Provinsi Jawa barat yang sering kita sebuk sebagai Masjid Agung Bandung. Semoga bisa menjadi referensi yang membantu para warga Bandung Khususnya untuk lebih mengenal Kotanya.



Sumber Referensi : http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Raya_Bandung
                                berbagai sumber































Rabu, 21 Januari 2015

Sejarah singkat Gedung sate




    Hai Guys, buat yang asli Bandung atau yang sering mampir ke Bandung atau bahkan yang pernah ke Bandung pasti kenal dong sama gedung satu ini yang sudah jadi icon kota Bandung. Kayaknya kurang lengkap kalo ke Bandung dan enggak mampir buat  foto foto atau sekedar liat liat gedung yang satu ini. Cuma, dari sekian banyak yang udah mampir ke gedung ini ada yang tahu ga sih sejarah gedung ini?

    Gedung sate dikenal dengan ornamen khasnya yang berada dipuncak gedung tersebut yang memang mirip dengan sate. Gedung Sate yang pada masa pemerintahan Hindia Belanda disebut dengan gedung Gouvernements Bedrijven (GB), peletakan batu pertama gedung ini dilakukan oleh Johanna Cathernia Coops, beliau adalah puteri sulung Walikota Kota Bandung pada waktu itu, bapak B.Coops dan Petronella Roelofsen mewakili Gubernur Jenderal dari Batavia (atau Jakarta sekarang) J.P. Graaf Van Linburg Stirum. Peletakan batu pertama dilakukan pada tanggal 27 juli 1920. 

    Bicara soal Gedung Sate, Gedung sate atau  gedung Gouvernements Bedrijven ini dirancang oleh tim yang terdiri dari Ir. J. Gerbener, juga arsitek muda kenamaan lulusan Fakultas Teknik Delft Nederland, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks serta pihak Gemeente van Bandoeng (Gementee itu sebutan untuk pemerintah kota), diketuai Kol. Pur. VL. Slors dengan melibatkan 2000 pekerja, 150 orang diantaranya pemahat, atau ahli bongpay pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan Cina yang berasal dari Konghu atau Kanton, dibantu tukang batu, kuli aduk dan peladen yang berasal dari penduduk kampung Sekeloa, KAmpung Coblong Dago, KAmpung Gandok, dan kampung Cibarengkok yang sebelumnya mereka menggarap Gedong Sirap (Kampus ITB) dan Gedong Papak (Sebutan untuk Balai Kota Bandung tempo dulu). 

     

       Arsitektur Gedung Sate merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara. Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa, (Indo Europeeschen architectuur stijl). Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate diantaranya Cor Pashier dan jan Wittenberg, dua arsitek Belanda, yang mengatakan "langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa". D.Ruhl dalam bukunya Bandoeng en haar Hoogvlakte 1952, mengatakan "Gedung Sate adalah bangunan terindah di Indonesia".

       
        Gedung Sate berdiri diatas lahan seluas 27.990,859 m², luas bangunan 10.877,734 m² terdiri dari Basement 3.039,264 m², Lantai I 4.062,553 m², teras lantai I 212,976 m², Lantai II 3.023,796 m², teras lantai II 212.976 m², menara 121 m² dan teras menara 205,169 m².Gerber sendiri memadukan beberapa aliran arsitektur ke dalam rancangannya. Untuk jendela, Gerber mengambil tema Moor Spanyol, sedangkan untuk bangunannya dalah Rennaisance Italia. Khusus untuk menara, Gerber memasukkan aliran Asia, yaitu gaya atap pura Bali atau pagoda di Thailand. Di puncaknya terdapat "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati), yang melambangkan 6 juta gulden jumlah tersebut adalah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate ini, nah sekarang mulai paham ya arti dari tusuk sate dan "sate" nya yang berjumlah 6 itu? hehehe.




       Fasade (tampak depan) Gedung Sate ternyata sangat diperhitungkan oleh para arsitekturnya. Dengan mengikuti sumbu poros utara-selatan (yang juga diterapkan di Gedung Pakuan, yang menghadap Gunung Malabar di selatan), Gedung Sate justru sengaja dibangun menghadap Gunung tangkuban perahu di sebelah utara guys. Dalam perjalanannya semula diperuntukkan bagi Departemen Lalulintas dan Pekerjaan Umum, bahkan menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda setelah Batavia dianggap sudah tidak memenuhi syarat sebagai pusat pemerintahan karena perkembangannya, sehingga digunakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum. Tanggal 3 desember 1945 terjadi peristiwa yang memakan korban tujuh orang pemuda yang mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Gurkha. Untuk mengenang ke tujuh pemuda itu, dibuatkan tugu dari batu yang diletakkan di belakang halaman Gedung Sate. Atas perintah Menteri Pekerjaan Umum pada tanggal 3 Desember 1970 Tugu tersebut dipindahkan ke halaman depan Gedung Sate. Konon ada tersiar kisah mistis mengenai tugu batu ini. 



        Gedung Sate telah menjadi salah satu tujuan obyek wisata di kota Bandung. Khusus wisatawan manca negara banyak dari mereka yang sengaja berkunjung karena memiliki keterkaitan emosi maupun history pada Gedung ini. Keterkaitan emosi dan history ini mungkin akan terasa lebih lengkap bila menaiki anak tangga satu per satu yang tersedia menuju menara Gedung Sate. Ada 6 tangga yang harus dilalui dengan masing-masing 10 anak tangga yang harus dinaiki. 

       Nah, mengingat perjalanan panjang yang sudah di tempuh oleh gedung ini maka sudah seharusnya kita sebagai warga kota Bandung untuk menjaga dan melestarikan gedung peninggalan bersejarah yang luar biasa ini. Sedikitnya dengan tulisan ini kita bisa lebih mengenal mengenai Gedung Sate dari mulai asal usul gedung tersebut mengapa bernama sate dan lain sebagainya, tidak hanya digunakan sebagi temat nongkrong atau foto foto saja.

      


sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gedung_Sate
               http://www.sobatpetualang.com/2013/12/sejarah-berdirinya-gedung-sate-di.html