Senin, 16 Februari 2015

Cikal Bakal Sebuah Kota bernama Bandung


peta negri bandung tempo dulu sumber : http://celine.blogdetik.com/tag/tempo-dulu/page/8/

       Deandels pernah berkata sambil menancapkan sebuah tongkat kayu dan berkata "Coba usahakan, bila aku datang kembali ke tempat ini, telah dibangun sebuah kota".


      Sebuah adegan yang menjadi cikal bakal lahirnya sebuah kota. semejak itu maka ramailah pembangunan dimulai. Pada awalnya semua bermuara dari jalan raya post yang dibuat dari anyer sampai panarukan oleh deandels. bandung, sebuah kota yang sekarang Heurin ku tangtung, yang menjadi salah satu tujuan pelancong dari berbagai penjuru, adakah para generasi sekarang mengetahui cikal bakal atau asal usul kota tersebut? mari kita simak cerita berikut ini.

      Bandung pada jaman dahulu disebut sebagai daerah terra incognita atau daerah tak bertuan yang  jadi sarang pemberontak atau tempat ekstremes-ekstremes yang sewaktu-waktu bisa menyerbu dan membahayakan kedudukan Kompeni Belanda  di Batavia. Dikutip dari www.infobdg.com/v2/the-story-of-paradise-in-exille/ Kota Bandung, kata Prof. Dr. E.C. Godee Molsbergen dalam “landsarchinaris” (Arsip Negara), pertama kali ditemukan seorang Mardijker bernama Juliaen de Silva dengan nama Negorij Bandoeng atau West Oedjoeng Beroeng. Konon, waktu itu cuma ada 25-30 rumah. Tapi pada abad ke-17, orang pribumi sering menyebutnya Tatar Ukur dengan penguasa terkenal Wangsanata alias Dipati Ukur yang kemudian hari diabadikan menjadi nama sebuah daerah di Bandung.

Groote Post Weg atau jalan raya post anyer sampai panarukan  Sumber : google


Priangan Tempo Dulu dilihat dari arah sindang laya


      Kembali kepada cerita mengenai kedatangan Si Mardijker Juliaen de Silva muncul, Wangsanata meningkatkan pengamanannya. “Jangan-jangan si Juliaen ini teh antek setianya Kompeni,” ujarnya. Sejak de Siva tiba, Kompeni seringkali mengintip Tatar Ukur. Jangan-jangan ada tindakan subversif terhadap Kompeni. Sampai pada th 1712 Abraham van Riebeek cucu dari cape koloni di Afrika Selatan mendarat di Pelabuhan Ratu. Dia kelak menjadi van Riebeek pebisnis kopi di Bandung. Dia juga "ngahaja ngajugjug" ke Gunung Papandayan untuk mendapatkan belerang sebagai campuran untuk Gunpowder atau bedil sundut (Senjata Api). Sampai kemudian ia meninggal di puncak Gunung Tangkuban Parahu pada 13 November 1713.

      Dari catatan Riebeek ini, Kompeni melihat potensi besar dari Negorij Bandoeng. Lalu dikirimlah si Kopral Arie Top (sepangkat Babinsa sekarang). Maka bisa jadi Kopral Arie Top inilah , orang kulit putih pertama yang jadi Bandoenger. Betul saja, setahun kemudian, warga Bandung bertambah 300% dengan masuknya 3 orang buangan kakak beradik bernama Ronde dan Jan Geysbergen. Kenapa disebut buangan ?. Karena Bandung pada abad 18 masih hutan rimba. Tak heran bila ada sebutan alas gung liwang liwung, top badak top maung. Jalmo moro, jalmo mati! Karena yang namanya Situ Hiang atau Danau Bandung, airnya masih menggenangi beberapa tempat di Tatar Bandung yang merupakan danau-danau kecil. Sedangkan lahan-lahan lainnya berpaya-paya. Makanya, konon ketika ada Kopral Kompeni Belanda yang suka menipu dan korupsi, dia dibuang juga ke “neraka” Bandung ini.

Lembang tempo dulu  sumber : www.delcampe.net
       
       Tapi dasar si tukang seleweng ini ternyata pintar dan cerdik, dia malah jadi pengusaha penggergajian kayu. Apalagi saat itu, tatangkalan pating ngaleugeujeur di unggal tempat (pepohonan rimbun disetiap tempat). Wajarlah bila awal abad ke-18 Bandung ini disebut “Paradise in Exille” atau “Sorga dalam Pembuangan”. Pada abad ini, Negorij Bandoeng sudah punya jalan setapak yang dapat dilewati kuda dan menghubungkan Bandung-Bogor-Batavia. Sehingga pada 1786 Piter Engelhard membuka kebun kopi di lereng selatan Gunung Tangkuban Parahu. Hasilnya sangat memuaskan. Sedangkan yang ngageugeuh selanjutnya adalah Herman Willem Daendels. Ia menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda 1808-1811 dan membangun jalan berkilo-kilo meter. Daendels mendapat julukan “Ijzeren Marschalk” (Marsekal baja) yang oleh warga pribumi disebut “Mas Galak”.

Priangan Tempo dulu  Sumber : Google

        Tidak diketahui secara pasti, berapa lama Kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels ataupun pihak kerajaan Belanda, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung. Berdasarkan data dari berbagai sumber, pembangunan Kota Bandung sepenuhnya dilakukan oleh sejumlah rakyat Bandung dibawah pimpinan Bupati R.A. Wiranatakusumah II. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa bupati R.A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) Kota Bandung.

            Pada awalnya Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung sekarang. Ketika kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki “Dalem Kaum I”, kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni ke Pemerintahan hindia Belanda, dengan gubernur jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811). Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

      Mengapa Daendels begitu ngotot untuk memindahkan ibu kota tersebut? Karena Daendels menginginkan agar rentang kendali terhadap Kabupaten Bandung lebih mudah, terutama setelah selesainya Jalan Raya Pos. Sementara itu, ibu kota Parakanmuncang yang posisinya sudah berdekatan dengan jalan raya pos, namun terlalu dekat dengan ibu kota Kabupaten Bandung yang baru, letaknya harus digeser ke arah timur laut dari posisi semula yaitu ke Anawadak, Tanjungsari sekarang.

          Dengan kondisi saat itu, Karapyak dianggap terlalu jauh dari rentang kendali karena jauh di selatan dari jalan raya pos. Jalan itu semula berupa jalan sebahu yang sudah lama ada, yang menjadi jalan penghubung antara pusat-pusat kerajaan sebelumnya. Pada 1809, Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mulai memperlebar dan mengeraskan jalan sebahu itu menjadi jalan yang bisa dilalui kereta pos yang menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa dari Anyer hingga Panarukan sebagai upaya untuk pengamanan Pulau Jawa dari serangan Inggris.

           Sekitar akhir tahun 1808/awal tahun 1809, bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang). Daendels sudah ingin segera memindahkan ibu kota Kabupaten Bandung sehingga ketika meresmikan Jembatan Cikapundung di dekat gedung PLN sekarang, dan deandels lah orang pertama yang menyebrangi jembatan itu untuk pertama kalinya. Dengan penuh  kesombongan Daendels menancapkan tongkat dan setengah mengancam Bupati Kabupaten Bandung sambil berkata “Zorg, dats als ik terug kom hier een staad is gebiuwd!” yang mempunyai arti :  "Coba usahakan, bila aku datang kembali ke tempat ini, telah dibangun sebuah kota"



Cihampelas 1910 Sumber : google
       Tidak cukup dengan paksaan itu, untuk menguatkan keinginannya, Herman Willem Daendels pun menulis surat pada 25 Mei 1810, yang bunyinya setelah diterjemahkan oleh Dr. A. Sobana Hardjasaputra adalah sebagai berikut:
Setelah memberitahukan dengan surat kepada penguasa Jakarta dan daerah pedalaman Priangan bahwa ia telah mendengar ketika mengadakan inspeksi yang terakhir bahwa ibu kota Bandung dan Parakanmuncang terletak jauh dari jalan yang baru sehingga pekerjaan pembuatan jalan itu terlambat. Oleh karena itu, diusulkan untuk memindahkan ibu kota tersebut, yaitu (ibu kota) Bandung ke Cikapundung dan (ibu kota) Parakanmuncang ke Anawadak, kedua tempat itu terletak di jalan besar dan selain itu sangat cocok, serta di samping pemindahan yang telah disebutkan juga mengenai beberapa tanam-tanaman akan dapat ditingkatkan karena lahan yang diusulkan menjadi ibu kota dan sekitarnya sangat subur, bilamana keputusan usul mengenai pemindahan ibu kota Bandung ke Cikapundung, dan Parakanmuncang ke Anawadak tersebut diterima, mohon Paduka memberikan otoritas dan perintah yang harus dilaksanakan.

       Di mana tempat yang bernama Anawadak itu? Menurut Dr. A. Sobana Hardjasaputra, Anawadak adalah Tanjungsari sekarang, dan perubahan nama dari Anawadak menjadi Tanjungsari, menurutnya terjadi pada dekade ke-2 abad ke-19, atau pada tahun 1820-an akibat perubahan kondisi alam geografis di daerah Tanjungsari yang dahulu kala merupakan sebuah danau alami yang terbentang gunung, situ dan lahan basah alami tempat habitat itik gunung atau disebut “Anawadak” hidup. Dalam surat itu disebutkan juga tentang keinginan Daendels untuk memindahkan ibu kota Parakanmuncang ke Anawadak karena Parakanmuncang letaknya terlalu berdekatan dengan ibu kota Kabupaten Bandung yang baru. Pindahnya Kabupaten Bandung ke Kota Bandung bersamaan dengan pengangkatan Raden Suria menjadi Patih Parakanmuncang. Kedua momentum tersebut dikukuhkan dengan besluit (surat keputusan) tanggal 25 September 1810. Tanggal ini juga merupakan tanggal Surat Keputusan (besluit), maka secara yuridis formal (dejure) ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Bandung. 

      Itulah sebuah perjalanan panjang mengenai sebuha kota yang kita kenal sekarang. perjalanan dari sebuah hutan belantara menjadi kota modern yang maju pesat. Tersimpan sebuah pesan kepada para generasi muda untuk terus mengingat sejarah panjang ini karena tak kenal maka tak sayang. Oleh karna itu sayangilah kotamu dengan mengenali sejarahnya.

suasana Priangan 1920 sumber : http://www.kaskus.co.id/thread/51c473b26112436c6f00000c/koleksi-foto-hitam-putih-indonesia-jaman-hindia-belanda/96

pieterspark atau balaikota sekarang sumber : Google

perekbunan kina di lembang sumber : google


kebun kina di bandung utara sumber : google

daerah Pasar baru belum ada apa apa sumber : google

perkampungan di priangan Sumber : Google 


Kota Bandung tempo dulu sumber : google



sumber :
http://www.infobdg.com/v2/the-story-of-paradise-in-exille/
http://kaskushootthreads.blogspot.com/2014/01/foto-foto-priangan-tempo-doeloe.html
http://wisatatempoduloe.blogspot.com/2011/07/sejarah-dayeuhkolot.html
Google.com

Minggu, 15 Februari 2015

Stasiun Bandung, awal modernisasi sebuah kota

Stasiun Bandung sekarang sumber foto : http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2010/11/12892695631196276818.jpg


        Naik kereta api..tuuut..tuuut..tuuuuuuuut.... (syair lagu anak)

          Sebuah laguu yang cukup sering kita dengar waktu kita masih kecil. Betapa dekatnya kita dengan nama salah satu alat transportasi tersebut pada waktu itu. dan juga betapa "wah" nya kalo bisa naik kereta pada saat kita masih kecil, well dalam hal ini ketika penulis masih kecil.  Dulu hiburan yang cukup membahagiakan adalah bisa melihat kereta api lewat, persis seperti saat kita melihat pesawat terbang yang melintas diatas kepala waktu masih kecil, pada waktu itu pasti akan berlari lari sambil berteriak "pesawaaaaaaaaaaaat...mintaaa uaaaaaaaang".... sungguh masa kecil yang indah.

           Nah, kembali berbicara mengenai kereta api. Bandung juga memiliki sebuah Stasiun kereta api yang cukup legendaris dan masih berdiri hingga sekarang. Walaupun keberadaannya mulai dikalahkan oleh Travel tapi untuk rute rute jauh (atau juga jarak menengah dan area yang belum tersentuh atau jarang oleh angkutan lainnya) kereta api masih diminati.  

          Dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Dulu (1984) karangan Haryoto Kunto yang dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Hall, ide awal pembangunan Stasiun Bandung berkaitan dengan pembukaan perkebunan di Bandung sekitar tahun 1870. Stasiun ini diresmikan pada 17 Mei 1884, ketika masa pemerintahan Bupati Koesoemadilaga dan pada waktu yang sama juga dibuka jalur kereta Batavia - Bandung melalui Bogor dan Cianjur. Di masa itu, para tuan tanah perkebunan (Preangerplanters) menggunakan jalur kereta api untuk mengirimkan hasil perkebunannya ke Batavia dengan lebih cepat. Untuk menampung dan menyimpan hasil perkebunan yang akan diangkut dengan kereta, dibangunlah gudang-gudang penimbunan barang di beberapa lokasi dekat Stasiun Bandung, yaitu Jalan Cibangkong, Jalan Cikuda-Pateuh, daerah Kosambi, Kiaracondong, Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, dan Andir. Sesaat setelah peresmian jalur Bandung-Surabaya (1 November 1894), para pemilik pabrik dan perkebunan gula dari Jawa Tengah dan Jawa Timur (Suikerplanters) menyewa gerbong kereta menuju Bandung untuk mengikuti Kongres Pengusaha Perkebunan Gula yang pertama. Kongres tersebut merupakan hasil pertemuan Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerplanters) di Surabaya tahun 1896.


Stasiun Kereta api tempo dulu Sumber foto : https://alampriangan.files.wordpress.com/2010/10/bandung-tempo-doeloe-7-stasiun-bandung.jpg

               Masih dalam laman yang sama, Pada tahun 1909, arsitek FJA Cousin memperluas bangunan lama Stasiun Bandung, salah satunya ditandai dengan hiasan kaca patri pada peron bagian selatan yang bergaya Art Deco. Tahun 1918, stasiun ini menghubungkan Bandung-Rancaekek-Jatinangor-TanjungsariCitali, kemudian setahun kemudian dibangun lintas Bandung-Citereup-Majalaya dan pada jalur yang sama dibangun jalur Citeureup-Banjaran-Pengalengan (1921). Untuk jalur ke perkebunan teh, pada tahun 1918, dibangun jalur Bandung ke Kopo dan kemudian ke Ciwidey (Maret 1921).

           Pada saat peresmian Stasiun Bandung, surat kabar Belanda saat itu, Javabode, menuliskan bahwa masyarakat sekitar merayakannya selama 2 hari berturut-turut. Dulunya, kereta api merupakan sarana transportasi hasil produksi perkebunan Bandung, seperti Kina, Teh, Kopi dan Karet, sehingga pertumbuhan ekonomi di kota tersebut berkembang pesat. Hal ini menyebabkan stasiun ini mendapat penghargaan dari pemerintah kota berupa monumen yang berada tepat di depan stasiun, yaitu di peron selatan (Jalan Stasiun Selatan). Saat itu, tugu tersebut diterangi oleh 1.000 lentera rancangan Ir. EH De Roo. Monumen tersebut telah digantikan oleh monumen replika lokomotif uap seri TC 1008. Pada tahun 1990, dibangun peron utara yang akhirnya dijadikan bagian depan stasiun di Jalan Kebon Kawung.


salah satu foto Stasiun kereta api di Bandung tempo dulu sumber : https://www.flickr.com/photos/12386296@N08/3015314755/
       Stasiun Bandung kemudian membuka jalur transportasi ke Surabaya pada tanggal 1 November 1894. Dengan hadirnya jalur tranportasi ini membuat pemilik perkebunan asal Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa berkumpul di Bandung. Salah satu perkumpulan para pengusaha ini terjadi dalam Kongres Pengusaha Perkebunan yang pertama. Kongres ini terjadi setelah pertemuan pengurus besar perkumpulan pengusaha perkebunan gula pada tahun 1896 di Surabaya.

Stasiun kereta api dengan tugunya yang khas sumber : https://pkscicendo.files.wordpress.com/2012/11/stasiun-bandung-tempo-dulu.jpg


stasiun kereta api pada periode awal, jalan akses masih becek sumber foto : http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/galdet.php?id=1&lang=id

kereta api di Bandung tempo dulu sumber : https://www.flickr.com/photos/12386296@N08/sets/72157608790437873/

pembangunan Stasiun padalarang sumber : http://asmianastasia.blogspot.com/2011/06/pembuatan-jalur-kereta-tempo-dulu.html


Stasiun rancaekek tempo dulu sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Het_spoorwegstation_in_Rantjaekek_TMnr_60052193.jpg
ranca ekek - tanjung sari sumber : http://www.semboyan35.com/showthread.php?tid=1017&pid=199816

Stasiun Padalarang sumber : http://asmianastasia.blogspot.com/2011/06/pembuatan-jalur-kereta-tempo-dulu.html

         Hingga kini stasiun kereta api Bandung masih berdiri dan masih beroperasi melayani para warga atau pelancong yang hendak bepergian. So, sekarang mari kita bepergian dengan mengenang sejarah dari sebuah stasiun yang sudah menjadi saksi sejarah sebuah kota.





sumber :
http://astrijalanjalan.blogspot.com/2015/02/sejarah-stasiun-bandung.htmlhttp://sebandung.com/2014/04/stasiun-hall-bandung/
http://id.wikipedia.org/wiki/Stasiun_Hall
http://socialstationproject.blogspot.com/2012/09/sejarah-pendek-stasiun-bandung.html




































Jumat, 13 Februari 2015

Dago, Sebuah Makna Dalam Nama



    Jalan Dago, kalo ga kenal kayaknya kurang pas ya? hehehe. Sebagai warga Bandung pasti dong tahu nama daerah ini. dimulai dari perempatan Jalan merdeka (BIP) hingga ke arah Dago Pakar tersimpan banyak hal untuk dinikmati. Makanan, Mall, Butik, Distro you name it semua berderet rapi sepanjang jalan Dago atau jalan Ir. H. Djuanda ini. Namun, kembali ada satu hal yang menggelitik saya. Apasih artinya Dago itu?

    Semua bermula di jaman "baheula" ketika Bandung belum memasuki tahun 1900. daerah Dago masih merupakan daerah antah berantah yang terpencil. Di daerah ini hanya ada sebuah kampung kecil bernama kampung Banong, dan katanya konon dari nama kampung ini lah nama besar Bandung berasal entah betul atau tidak. Kampung Banong ini mulai dikenal ketika seorang "Juragan" kopi bernama Andress de Wilde mendirikan sebuah rumah untuk beristirahat disana.

    Konon juga menurut cerita para tetua pada jaman baheula ketika kota Bandung masih dikelilingi oleh banyak hutan rimba, orang - orang dari daerah Bandung utara jika hendak kepasar membeli kebutuhan atau menjual hasil kebun dan lain sebagainya ke daerah kota Bandung harus melewati daerah Dago. 

    Di sekitar hutan tersebut banyak penjahat, begal yang suka bersembunyi dan siap menyergap siapa saja yang melewati daerah tersebut. Orang - orang dari Bandung utara merasa takut melewati daerah hutan itu sendirian, jadi di daerah Dago mereka nongkrong sambil nunggu teman dan supaya bisa pergi ke kota Bandung bersama sama. Dagoan dalam bahasa sunda berarti menunggu dari situlah mencul istilah jalan Dago sebagai tempat mereka nongkrong menunggu "teman seperjalanan"untuk pergi ke kota Bandung. 

      Baru pada tahun 1910 daerah tersebut dibuka karena pemerintah Belanda pada waktu itu sedang memeperluas wilayah kota Bandung ke arah utara. Orang orang membuka lahan dan sawah di daerah Dago, bahkan sampai menyiapkan reservoir air minum di daerah Dago pakar.


wilayah Dago setelah mengalami perubahan

Curug Dago tahun 1880 masih terlihata asri dan bersih
    
    Salah satu tempat yang cukup menarik di daerah Dago adalah Curug Dago Air Terjun atau Curug Dago atau terletak sekitar 1 kilometer di sebelah selatan kawasan Tahura Ir. H. Djuanda. Tinggi air terjun ini hanya 15 meter, namun aliran deras sungai Ci Kapundung serta bentuk curugnya menimbulkan suara yang cukup membahana di sekitarnya. Sebagian kalangan menganggap curug ini memiliki kesan magis dan menganggapnya keramat.









Curug dago tempo dulu
     Salah seorang yang tertarik dengan keindahan dan suasana mistik Curug Dago adalah seorang raja dari Thailand yang sedang berkunjung ke Bandung, yaitu Chulalongkorn bergelar Rama V beserta anaknya Pangeran Pravitra Vandhanodom. Mereka mengunjungi Curug Dago pada tahun 1902. Dari Hotel Homann tempat menginap, mereka mengunjungi Curug Dago dengan mengendarai kuda. Dalam kunjungannya itu Raja Thailand meninggalkan sebuah prasasti bertuliskan nama sang raja, beserta umur serta tahun kunjungan yang ditulis dalam penanggalan dan bahasa Thailand.

      Prasasti ini masih dapat dilihat sekarang berdampingan dengan sebuah prasasti lain tinggalan cucu sang raja, yaitu Pangeran Prajatiphok Paramintara (Rama VII) yang menapaktilasi kunjungan kakeknya pada tahun 1929. Kedua prasasti ini lama tak diketahui keberadaannya sampai ditemukan kembali pada tahun 1989. Menurut Bhiksu Prawithamtur dari Vihara Menteng Jakarta yang juga pernah mengunjungi Curug Dago tahun 1989, “Apabila seorang raja Thailand bersemedi dan menuliskan namanya di suatu tempat, maka selain untuk kenangan, biasanya panorama alam pada lokasi itu indah, juga dianggap suci dan keramat.” sebagaimana dikutip dari https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/05/27/tahura-ir-h-djuanda-dan-plta-bengkok/

    
   

   
Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda
       Taman terbesar yang pernah di bangun pada masa pemerintahan Hindia -Belanda. Taman ini berbentuk hutan lindung yang pada awalnya dinamai Hutan Lindung Gunung Pulosari. pembuatan taman ini sudah mulai dirintis dari tahun 1912 bersamaan dengan pembangunan terowongan penyadap aliran sungai Ci Kapundung, yang kemudian diresmikan pada tahun 1922. Baru pada tanggal 14 Januari 1985 taman hutan diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tanggal peresmian ini memang bertepatan dengan hari kelahiran Pahlawan Kemerdekaan, Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, seorang tokoh nasional yang pernah memangku 18 jabatan menteri dalam rentang waktu antara 1946-1983. Hingga taman ini kemudian dikenal sebagai taman Ir. H. Djuanda. 
      Letak Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda berada di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimenyan, pada ketinggian antara 770 mdpl sampai 1330 mdpl. Di atas tanahnya yang subur terdapat sekitar 2500 jenis tanaman yang terdiri dari 40 familia dan 112 species. Pada tahun 1965 luas taman hutan raya baru sekitar 10 ha saja, namun saat ini sudah mencapai 590 ha membentang dari kawasan Pakar sampai Maribaya.


Gua Belanda
      Masih di dalam taman Ir.H. Djuanda, terdapat gua gua yang memiliki nilai historis, yaitu gua belanda dan gua jepang. Gua Belanda mulai dibangun pada tahun 1912 dengan membobol bukit di sisi aliran sungai Ci Kapundung. Fungsi awalnya adalah sebagai saluran penyadapan aliran sungai untuk keperluan pembangkit tenaga listrik. Tahun 1918 tampaknya ada perubahan atau penambahan fungsi gua karena di dalam gua ditambahkan ruang-ruang dan cabang lorong hingga panjang keseluruhan gua mencapai 547 meter. Tinggi mulut gua 3,2 meter dan jumlah cabang lorong 15 buah. Beberapa ruang tampak seperti ruang tahanan. Setelah terjadinya perubahan fungsi, maka dibuatlah jalur air yang baru menggunakan pipa-pipa besar yang ditanam di bawah tanah kawasan Tahura. Kemungkinan Belanda juga menjadikan gua ini sebagai tempat penyimpanan mesiu. Saat masuknya tentara Jepang, Belanda sempat menggunakan gua ini sebagai Pusat Telekomunikasi Militer Hindia-Belanda bagi tentaranya.





Gua Jepang.
     Pada masa penjajahan Jepang, fungsi gua sebagai gudang penyimpanan senjata dan mesiu dilanjutkan sambil menambahkan gua-gua baru lainnya di dekatnya (1943-1944) yang belakangan disebut sebagai Gua Jepang. Untuk membangun gua ini, Jepang menerapkan kerja paksa (romusha) pada penduduk saat itu. Gua-gua ini kemudian juga menjadi tempat pertahanan terakhir Jepang di Bandung. Setelah kemerdekaan RI gua-gua ini tidak terperhatikan dan baru ditemukan kembali pada tahun 1965 dengan kondisi tertutup alang-alang dan tetanaman yang lebat. Saat itu di dalam gua banyak didapati amunisi bekas tentara Jepang pada masa Perang Dunia II. Sejak ditemukannya, Gua Jepang masih berada dalam kondisi aslinya sementara Gua Belanda sudah mengalami 3 kali perbaikan.

    Pada rentan tahun 1920 - 1940an pemerintah Benlanda sedang giat giatnya membangun. Munculnya rencana untuk memindahkan Ibukota ke Bandung dari Batavia membuat para pemerintah Belanda merasa perlunya sarana sarana penunjang dan salah satunya adalah sarana pendidikan. Salah satu bangunan yang mewadahi kegiatan belajar-mengajar yang cukup kesohor di masa itu adalah komplek Sekolah Menengah Atas Kristen Dago atau dikenal juga dengan SMAK DAGO. Bertempatan di jalan Dago no 93, SMAK DAGO memiliki aula yang sangat terkenal, yaitu Lyceum Dago. Lyceum memiliki artian "Bangunan yang mewadahi kegiatan publik seperti konser, pertemuan, seminar, dll" istilah ini muncul pada 335 SM sebagai nama sekolah yang didirikan oleh seoran filsuf terkenal yaitu Aristoteles.


Lyceum Dago atau SMAN 1 bandung sekarang.




       Meski SMAK Dago telah didirikan pada tahun 1927, Aula Lyceum sendiri baru didirikan tahun 1939 bersamaan dengan renovasi besar-besaran yang merombak seluruh bangunan asli sekolah. penanggung jawab perancangan proyek ini adalah J.S. Duyvis, seorang arsitek spesialis bangunan pendidikan. Bersamaan dengan berkembangnya reputasi sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan swasta terbaik di Bandung pada masa itu, Aula Lyceum karya Duyvis pun kemudian menjadi salah satu ikon pergaulan sosial di kalangan pelajar dan masyarakat Bandung pada waktu itu.
     Nama Lyceum sendiri kemungkinan besar diambil dari nama Het Christelijk Lyceum (HCL), yayasan Kristen Belanda yang menjadi pendiri sekaligus pengelola pertama SMAK Dago pada tahun 1927. Nah, nama Christelijk Lyceum itu sendiri  diadopsi juga sebagai nama resmi sekolah Hingga tahun 1958. Namun dikarenakan semangat nasionalisasi di indonesia, maka sekolah ini harus berganti  nama menjadi SMAK Dago seperti yang dikenal sekarang.

Dago Tea House dengan view Daerah Dago tempo dulu

      Kenal dengan foto diatas? kalo kenal berarti anda hebat. Foto diatas adalah Dago Tea house atau dago tee huiiz. dikutip dari trianhutaria1206.blogspot.com, Dago tea house atau sekarang dikenal juga dengan nama taman budaya Jawa Barat, berada di kawasan Bukit Dago utara Bandung yang berudara dingin dengan ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Nama Dago Tea House atau Dago Tee Huizz sendiri sudah ada sejak zaman Belanda. Bangunan restoran ini berdiri dari ihwal kebiasaan para noni dan meneer Preangerplanters  menikmati saat minum teh sambil bercengkrama bersama keluarganya, dan menikmati pemandangan Kota Bandung dari ketinggian.

     Para pembesar Belanda yang datang ke Dago Tea House juga bertujuan memilih teh-teh terbaik dari seluruh Priangan untuk dijadikan komoditas unggulan mereka. Lokasi Dago Tea House dirancang menghadap ke arah Gedung Sate di pusat Bandung, sedangkan sedikit ke arah kanan, pemandangan diarahkan ke Kompleks Hotel Savoy Homan. Di restoran kecil ini terdapat tempat bermain anak yang masih dipertahankan hingga kini. Sementara bangunan restorannya menjadi tempat teater terbuka dengan restorasi kafetaria “Boga Kuring” di sebelahnya.

   Pada era kemerdekaan, pada tahun 1960an Presiden RI pertama Ir. Soekarno pernah "niis" (beristirahat) di Dago Tea House. Kemudian tradisi ini dilanjutkan  oleh Presiden RI kedua Soeharto, yang berkunjung ke sana setelah peringatan Konfersi Tingkat Tinggi Gerakan Nonblok (KTT Nonblok) pada tahun 1992. Waktu itu, Soeharto mengharapkan pembangunan gedung-gedung di bawah Dago Tea House tidak menghalangi pemandangan ke bawahnya. Sampai-sampai pepohonan pun disesuaikan tingginya oleh Pemerintah Jawa Barat. Sayangnya imbauan itu sudah tak berlaku lagi sekarang.

     Nah sekarang kita tahu kenapa sih daerah ini disebut dengan Dago, yang ternyata asal usul katanya berasal dari "Dagoan" atau tungguin kalo bahasa slanknya mungkin ya? nah, semoga catatan kecil ini bisa bermanfaat membantu memberikan informasi mengenai seluk beluk daerah Dago agar kita lebih mengetahui mengenai Bandung, kota tercinta kita.















































http://www.academia.edu/4281554/A1_NEWEDITBAB1_3
http://himse89.blogspot.com/2012/02/jalan-dago.html
Dago 1920 (sumber:Bandung Tempo Doeloe)
https://tirairana.files.wordpress.com/2010/07/bandung-dago-thee-huis.jpg 
http://archive.kaskus.co.id/thread/3678285/0/tempat-para-penikmat-foto-foto-djadoel
http://www.infobdg.com/v2/wp-content/uploads/2014/02/003-curug-dago.jpg
http://buanapatratrans.blogspot.com/
http://archive.kaskus.co.id/thread/3678285/0/tempat-para-penikmat-foto-foto-djadoel