Selasa, 31 Maret 2015

Sebuah Kesalahan pada lambang Gemeente Bandung tempo dulu bagian 2#


kembali membahas soal lambang Gemeente Bandung,  sejak dayeuh Bandung ditetapkan menjadi Gementee oleh Jenderal J.V. Van Heutz melalui ordonasi 21 Februari 1906. Legenda Sanghiang Tikoro dan Sangkuriang menjadi tema khas dari Lambang Gementee Bandung. Bahkan sejak itu pula tak pernah ada sebuah lambang apapun tanpa persetujuan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Seperti yang ditetapkan dalam aturan pasal 1 ayat 1 ordonasi 7 September 1928. Termasuk sehelai pita yang menghiasi perisai Bandung kala itu dan bertuliskan motto dengan bahasa latin Ex Undis Sol. Motto ini merupakan terjemahan dari bahasa Belanda Uit de Golven de Zon yang berarti "Matahari Muncul di atas Gelombang". Lho, apa hubungannya Matahari Muncul di atas Gelombang dengan kisah pasang surut Danau Bandung ? kata Meneer J.E. Jasper dalam sebuah artikel di koran Java Bode 1906-1931.

Persoalan mendasar dari kesalahan itu sebenarnya bukan dari tidak adanya hubungan nama dengan sejarah. Seperti juga motto "Bandung Berhiber", "Bandung Atlas" atau Bandung Heurin ku Tangtung, dll. Tersirat muatan histori dan potensi sosio-ekonomi pada motto tersebut. Tetapi, kata sahibul sejarah, kesalahan nama yang kemudian menjadi motto Bandoeng Tempo Doeloe itu karena Walikota pada masa itu "koppig" alias nakal, malu mundur karena gengsi. Karena ia tetap ingin mempertahankan semboyan "Ex Undis Sol". Padahal, meskipun dari segi hubung-hubungan tadi boleh-boleh saja, tapi justru penggunaan namanya yang ternyata salah.

Motto Gementee Bandoeng itu sebenarnya sangat tidak ingin terlepas dari sejarah danau Bandung. Semacam motto yang mungkin begini bunyinya, "Lahan Kokoh Muncul dari Gelombang". Lahan kokoh atau lahan padat yang dalam bahasa latin disebut "Solum" atau dalam bahasa Inggris "Solid Soil". Sedangkan kata latin dari muncul adalah "Ex" dan gelombang dalam bahasa latin adalah "Undis". Jadi motto yang benar adalah "Ex Undis Solum" bukan "Ex Undis Sol" seperti yang tercantum dalam lambang Gementee Bandoeng tempo dulu. Sebab, kata latin "Sol" berarti "Matahari" seperti Solar atau Soleil dalam bahasa Prancis. Bayangkan, sampai tahun 1952, kota Bandung yang luhung ini ternyata memiliki dan menggunakan semboyan yang salah


sumber :
http://bandoengers.blogspot.com/2010/02/ex-undis-sol.html
http://infobdg.tumblr.com/post/15628311400/pemerintah-kerajaan-belanda-ternyata-sempat









Sebuah Kesalahan pada lambang Gemeente Bandung tempo dulu bagian 1#



Jika saya bertanya pada warga Bandung mengenai lambang diatas apakah ada yang mengenalinya? Yak, itu adalah lambang pemerintahan Bandung masa penjajahan Belanda, atau disebut juga dengan Gemeente Bandoeng. Mungkin untuk warga muda Kota Bandung belum banyak yang mengenali (kecuali mereka yang gemar akan sejarah kota Bandung) tapi untuk para rekan rekan senior atau para tokoh dan tetua kota Bandung akan mengenali logo ini.

Makna apa sih yang terkandung dalam lambang ini, untuk mengetahuinya mari kita bahas jauh ke belakang, saat Bandung masih berupa Danau menurut catatan sejarah, Bandung terbentuk karena menyusutnya danau bandung sekitar 3000 tahun yang lalu. Danau ini terbentuk dari erupsi besar Gunung Tangkuban Parahu yang merupakan anak dari gunung Sunda. Pada saat danau tersebut surut maka munculah sebuah dataran tinggi Bandung.

sang hyang tikoro atau tenggorokan dewata

Ketika sungai Citarum tersumbat muntahan Gunung Tangkuban Parahu, airnya mengalir mencari jalan keluar menembus perbukitan Rajamandala dan melewati terowongan alam Sanghyang Tikoro. Hasilnya, bandung menjadi dataran yang subur pada ketinggian 725 mdpl. Danau Bandung terbentang dari Cicalengka di daerah timur hingga ke Padalarang di daerah barat. dari Bukit dago di utara hingga batas Soreang - Ciwidey di Selatan. sedangkana Alun - alun pada waktu itu diperkirakan tenggelam pada kedalaman 30 Meter.



peta danau bandung purba 

Di epoh Holosen (11 ribu tahun lalu), gunung berapi Tangkuban Perahu terbentuk sebagai gunung berapi parasitik dari kawah gunung berapi Sunda. Gunung Sunda sendiri terbentuk sekitar 2 juta tahun lalu (letusan Tangkuban Perahu pertama) dan merupakan gunung berapi besar dengan diameter sekitar 20 km dan tingginya sekitar 3000 meter.

Danau Bandung terbentuk oleh letusan gunung Tangkuban Perahu kedua, 6000 tahun lalu, yang membendung sungai Citarum (mungkin dari sini nama Bandung berasal). Danau purba ini diduga berada sekitar 720 meter di atas permukaan laut. Gua yang ditemukan Brahmantyo dkk berada tidak jauh dari muka air danau ini.

Air danau Bandung semenjak 3000-4000 tahun lalu perlahan-lahan mulai mereda akibat adanya penetrasi air di bukit kapur Rajamandala di Sanghyang Tikoro. Penetrasi ini menyebabkan terjadinya sungai bawah tanah yang mengalirkan air danau Bandung ke sungai Citarum, terus menerus hingga sekarang. Air danau Bandung yang lepas dan menyisakan sejumlah besar telaga kecil yang kemudian menjadi rawa-rawa di dalam hutan belantara Bandung. Lokasi rawa-rawa ini kemudian menjadi nama dari berbagai tempat di Bandung seperti Situ Gunting, Situ Aras, Situ Saeur, Leuwi Panjang, Cisitu, Situ Aksan, Rancaekek, Rancamanuk, Rancaoray, Rancakandang, Rancabeureum, Rancabadak, dan Rancamanyar. Fakta tentang keberadaan danau Bandung sudah diketahui setidaknya dari zaman Belanda, sekitar tahun 1936.

Walau begitu, penelitian lebih modern berpendapat lain. MAC Dam pada tahun 1994 menyimpulkan keberadaan danau Bandung yang jauh lebih tua usianya. Beliau menyimpulkan hal tersebut dari endapan lakustrin yang ditemukan lewat pengeboran di Dataran Bandung Timur. Dam menyebutkan kalau danau Bandung terbentuk 135 ribu tahun lalu dan lenyap sekitar 20 ribu tahun lalu.

sumber :
https://harunjaya33.wordpress.com/2011/06/23/buset-asal-usul-bandung-adalah-danau-purba/

sumber foto :
https://harunjaya33.wordpress.com/2011/06/23/buset-asal-usul-bandung-adalah-danau-purba/
http://bandung.panduanwisata.id/menelisik-keagungan-sanghyang-tikoro/






Toko De Vries, sebuah kisah tentang toko serba ada






     Masih ingat foto di atas? pernah saya muat di kisah soal jalan Braga loh. kalau belum baca silahkan buka disini http://bandungtempodulu.blogspot.com/2015/02/braga-dari-jalan-pedati-menuju-parijs.html nah, toko serba ada pada jaman dulu tersebut ternyata menyimpan berbagai cerita.

Toko De Vries yang berada dilokasi yang sangat strategis ujung jalan braga dan berdampingan dengan hotel Homann dan Sositet Concordia. pada waktu itu sangat kesohor karena kelengkapan barang dagangannya dan juga harganya yang murah meriah. Banyak orang berdatangan ke toko tersebut termasuk para tuan perkebunan atau para Preangersplanters yang berbelanja seminggu sekali ke toko ini untuk mencukupi kebutuhan harian mereka.

Tak heran jika dalam waktu singkat saja omset mereka bisa meningkat pesat. Namun tuan Klaas de Vries kewalahan menghadapi permintaan pasar, persediaan barang cepat sekali habis sedangkan pembantunya hanya istrinya dan dua orang pelayan, dia tak memiliki orang untuk disuruh berbelanja ke daerah Batavia (jakarta), Semarang, atau Surabaya. 

Pada akhirnya suami istri De Vries yang juga tidak punya anak sepakat untuk memanggil kemenakan mereka dari Netherland (Belanda) untuk datang ke Priangan membantu mereka. Jan R. de Vries, kemenakan tuan Klaas de Vries atau sering disebut orang dengan panggilan junior yang akhirnya diserahi tugas jaga toko seharian.


Tuan De Vries dan Keluarganya

Melalui catatan sehari harinya, si junior bercerita bahwa toko pamannya itu tak pernah sepi pengunjung. Demikian juga pada hari sabtu atau malam minggu, orang ramai lalu lalang "window shooping" ngintip barang dagangan toko De Vries

Kegiatan si Junior mulai meningkat semenjak jumat sore. karena pada waktu itu banyak para tuan tanah "turun gunung" untuk berbelanja, jadi dia harus kerja keras lembur bahkan konon katanya sampai tertidur kelelahan diatas tumpukan karung terigu di gudang toko. Junior baru bisa lepas istirahat di hari senin pagi. Betapa padatnya jadwal junior saat melayani pelanggan toko tersebut. Dibantu dua pelayannya Atmo dan Karta, si Junior terkadang harus siap 24 jam bila sewaktu waktu ada Tuan Belanda mabok gedor gedor pintu mau beli minuman atau obat.




Ada sebuah kisah lucu dari toko De Vries ini, sekali waktu di sebuah malam minggu De vries sekeluarg apergi berpesta melupakan keseharian mereka sejenak. Tokopun dikunci rapat rapat, namun seok paginya mereka mendapati pintu toko terbongkar kuncinya, botol botol minuman di etalase dan rak di gudang raib entah kemana. namun mereka mendapati ada segepok uang tergeletak di meja toko dan jumlahnya melebihi barang yang hilang. setelah di usut, ternyata pelakunya adalah para tukang mabok berkantong tebal langganan toko De Vries alias para Priangersplanters yang sedang mabuk mabukan sambil ugal ugalan salah seorangnya diketahui ialah Meneer Wim Schenk dari perkebuna Kina yang lagi mabok di jalan Braga.



Toko De Vries Sekarang

Sumber :
Kunto, Haryoto. 1986. Semerbak Bunga di Bandung Raya : Granesia, Bandung
Sumber foto :  

http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=852734&page=27
http://commons.wikimedia.org wiki/File COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Portret_van_Klaas_de_Vries_eigenaar_van_een_toko_met_zijn_kinderen_TMnr_60011851.jpg














Rabu, 25 Maret 2015

asal muasal gang saritem


     Hampir setiap orang yang tinggal di Bandung dipastikan mengenal Saritem. Terlepas dari segala bentuk kontroversinya selama ini, kawasan tersebut sebetulnya punya nilai sejarah yang kuat. Bahkan masih banyak orang yang belum mengetahui asal-usulnya secara jelas karena terlalu melihat persoalannya dari sisi moral semata. Resminya kawasan ini sudah ditutup sejak empat tahun lalu. Namun kabarnya masih bisa dijumpai denyut kehidupan lokalisasi yang namanya sudah terkenal bahkan sebelum Negara Indonesia berdiri. Dengan membuka sedikit lembaran kisah mengenai kawasan ini, kita mungkin bisa mengenal sejarahnya.

     Konon, asal muasal nama Saritem diambil dari seorang perempuan Sunda yang berprofesi sebagai penjual jamu keliling dan akhirnya dijadikan istri simpanan oleh seorang warga Belanda. Mengingat banyaknya serdadu atau warga Belanda yang bermukim dan membutuhkan sarana pelampiasan birahi, suaminya mengusulkan supaya mengajak teman-teman simpanannya untuk menyediakan layanan tersebut. Kira-kira pada tahun 1906, kawasan ini dikenal sebagai pusat lokalisasi bagi para tentara Belanda. Lalu tahun demi tahun, berkembanglah lokalisasi ini di kawasan kota Bandung.

     Tapi ada versi lain yang menyebutkan asal lokalisasi ini. Konon, nama Saritem diambil dari seorang perempuan hitam manis yang cantik dan bernama Nyonya Sari. Meskipun ada perbedaan asal-usulnya, secara umum namanya memang berasal dari seorang perempuan. Entah benar atau tidak, faktanya kawasan ini sudah berdiri jauh sebelum proklamasi kemerdekaan RI dan terus tumbuh berkembang antar generasi hingga saat ini. Wajar jika lokalisasi di pusat kota Bandung ini merupakan yang terbesar di Jawa Barat.

     Salah satu calo pekerja seks komersial (PSK) Saritem yang juga sebagai warga di kawasan tersebut yang berhasil ditemu bertutur. Sepengetahuannya, area prostitusi di Saritem sudah dibuka sejak 1942. "Wah, sudah lama sekali, sejak saya belum lahir juga sudah mulai dibuka," kata Ece. Konon, kata Ece, Saritem dijadikan lokalisasi bagi para serdadu Jepang. Para PSK kala itu berjejer, dipajang dengan menggunakan kebaya di setiap rumah. Kebanyakan PSK tersebut didatangkan dari desa-desa dengan cara ditipu atau dipaksa, meski ada pula yang menawarkan diri secara terang-terangan. "Saritem dulu menjadi suguhan untuk kolonial Jepang, kemungkinan orang Jepang sendiri yang mendirikan dan mengolanya," kata Ece.

 sumber : 
http://forum.detik.com/saritem-sejak-jaman-jepang-t570520.html
http://www.kamusbahasasunda.com/saritem-sebuah-warisan-sejarah-dari-masa-kolonial/
dari berbagai sumber







sepenggal kisah nama jalan/daerah di Bandung #bagian pertama



    Untuk memudahkan mencari alamat, biasanya orang akan menakan nama sebuah jalan. agar bisa di track alamat yang ia tuju. nah, bicara soal nama jalan ada yang hapal asal usul nama nama jalan di kota Bandung? yuk kita baca sama sama.

Jalan Wastukancana Bandung

     Jl. Wastukancana sering disingkat menjadi Wastu. Nama ini diambil dari nama seorang raja Pajajaran bernama Niskala Wastukancana. Pada saat perang Bubat, Wastukancana masih berumur 9 tahun. Ayah dan kakak Wastukancana, Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka, gugur di medan Bubat. Wastukancana naik tahta saat umurnya 23 tahun. Beliau memegang singgasana Pajajaran selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari.

      Dahulu nama jalan Wastukancana ini adalah Engelbert Van Bevervoordeweg.  Kapten Engelbert van Bevervoorde adalah pelopor dunia penebangan militer Belanda. Beliau meninggal dunia pada tahun 1918 setelah pesawat Glenn Martin yang dikemudikannya jatuh di Bandara Sukamiskin. Untuk mengenang jasanya, pemerintah Belanda membuat patung dirinya pada tahun 1920. Patung tersebut diletakkan di sebuah tikungan jalan yang sekarang adalah Jalan Wastu Kencana. Setelah Indonesia merdeka, patung tersebut dipindahkan ke Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda

Jalan Siliwangi Bandung

       Jalan ini dahulu bernama Dr. De Greerweg. Kata Siliwangi diambil dari seorang tokoh mitologis dan legendaris dalam satra dan sejarah Sunda, yaitu Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi adalah raja Pajajaran yang terkenal karena kepemimpinannya dapat menjadikan masyarakat Pajajaran yang sejahtera, adil dan makmur. Jalan Siliwangi dibangun untuk memperlancar hubungan antara bagian barat dan timur kota Bandung. Pemberian nama Siliwangi dilakukan untuk mengenang tokoh bersejarah tersebut. (sumber : Buku TOPONIMI Kota Bandung oleh T. Bachtiar dkk) di jalan ini terdapat mural terpanjang di Indonesia hasil karya teman-teman dari Seni Rupa ITB. Kawasan jalan Siliwangi masih dirimbuni pepohonan yang besar dan tua. 
 
Jalan Banceuy di Bandung

       Banceuy adalah nama jalan di kota Bandung yang perpotongannya dari jalan Asia Afrika (salah satunya).    Dalam Kamus Umum Basa Sunda (KKUBS), Banceuy diartikan sebagai kampung yang bersatu dengan istal (kandang kuda). Kampung disini artinya tempat tinggal pera pengurus kuda (dan keretanya). Dengan demikian penamaan daerah ini dilakukan atau diadaptasi berdasarkan fenomena sosiologis. Yaitu kondisi yang pernah terjadi di daerah tersebut berkenaan pula dengan hal-hal yang pernah dialami oleh masyarakat.

    Kawasan Banceuy dulu pernah dijadikan tempat peristirahatan dan tempat mengganti kuda, khususnya untuk keperluan transportasi dan penyampaian benda-benda pos. Dahulu surat dikirim dengan menggunakan jasa transportasi kuda. untuk pengiriman jarak jauh tentu tidak cukup hanya dengan menggunakan kuda yang itu-itu saja. Tetapi harus diganti. Nah di Banceuy-lah tempat ganti kuda ini.

       Dahulu pula di daerah ini terdapat sebuah loji (penjara) yang bersebelahan dengan kandang kuda. Penjara Banceuy namanya. Pemerintah kolonial penah memenjarakan Soekarno disini. Sel tempat Soekarno dikurung 'dimuseum'kan, sementara bangunan penjara yang lain telah dirobohkan dan sekarang jadi ruko. Karena lokasinya yang bersebelahan dengan kandang kuda, maka daerah ini pun pernah disebut Loji Banceuy.Banceuy nama asal jalannya adalah bantjeuyweg dan diresmikan pemerintah kolonial pada tahun 1871. Sekarang jadi jalan Banceuy.
 
Jalan Buah Batu Bandung

        sebagaimana kita ketahui, Bandung itu dahulunya adalah sebuah danau yang sangat luas. Seiring berjalannya waktu, air danau ini menyusut dan bermunculanlah sembulan-sembulan daratan yang diselingi beberapa cekungan yang masih tergenang air. Diantara sekian jumlah cekungan air, terdapat sebuah telaga yang banyak mengandung bebatuan. Di tepi telaga tersebut banyak terdapat pohon mangga (Sunda : buah). Melihat keadaan seperti itu, masyarakat yang tinggal disekitarnya secara spontan menyebut daerahnya menjadi Buah Batu. Sekarang daerah ini jadi kawasan yang ramai. Masyarakat Bandung menyebut Buah Batu jadi Bubat.

Jalan Cihampelas Bandung
       Salah satu jalan yang paling banyak menampung wisatawan lokal dan internasional. Jalan Cihampelas. Pola penamaan jalan ini terbentuk melalui dua aspek : Hidrologis dan biologis. Cihampelas berasal dari gabungan dua kata.
1. Ci = Cai, yang artinya air (Sunda)
2. Hampelas = Nama jenis pohon yang daunnya kasar, seperti kertas amril (ampelas) yang digunakan untuk menggosok atau menghaluskan besi dan kayu. Dengan demikian, Cihampelas jika diartikan secara bebas dapat memiliki dua pengertian. Pertama, air yang memiliki khasiat untuk menghaluskan kulit atau membersihkan hal lainnya. Kedua, sebuah daerah aliran sungai yang disekitarnya terdapat banyak pohon Hampelas.

Asal Usul Jalan Lengkong Bandung
        Jalan yang pada masa pemerintahan kolonial bernama Groote Lengkong ini mengandung arti "teluk". Kawasan ini pada jaman dahulu merupakan sebuah teluk yang besar (hal ini berkaitan dengan asal muasal Bandung sebagai sebuah danau raksasa, danau purba). Ketika danau Bandung surut, ada beberapa wilayah yang masih tergenang air. Satu diantaranya disebut Lengkong.

Asal Usul Grootepostweg alias Jl. Asia Afrika
        Jalan yang pada saat itu disebut sebagai Groote Postweg (groote = great = besar, post = pos, weg = jalan) ini membentang sepanjang 1.000 km melintasi pulau jawa dan menelan nyawa 30.000 ‘koeli’ pribumi. Bayangkan kalau diambil rata-rata berarti setiap 1 km dikorbankan nyawa 30 pribumi untuk pembuatan jalan ini, miris enggak sih? Sesudah itu, ternyata fungsi Groote Postweg yang utama ini ternyata gagal dicapai, karena akhirnya Belanda menyerah pada Inggris setelah diserang melalui Pelabuhan Semarang di tahun 1811.
 
       Jalan yang dibuat dengan pengorbanan besar itu akhirnya membawa hikmah juga, banyak hal berawal dari terciptanya Groote Postweg ini. Diantaranya kelahiran kota Bandung Modern. Karena memang Bandung yang kita kenal sekarang ini konon katanya direlokasikan dari lokasi sebelumnya (Dayeuh Kolot sekarang, dayeuh = kota, kolot = tua) atas permintaan Daendles kepada bupati Bandung Wiranatakusumah II. Kenapa harus dipindahkan? Karena rencana pembangunan jalan Groote Postweg di daerah priangan ternyata memiliki selisih jarak sekitar 11 km dari lokasi kabupaten Bandung pada saat itu, yang berlokasi di sekitar dayeuh kolot.
 
Jalan Gatot Subroto
     Jl. Gatot Subroto,  dulu bernama  Jl. Papandayan dan Jl. Pelajar Pejuang 45 dulunya bernama Jl. Tangkuban Perahu. Namun menurut kisah, orang orang pemerintahan Bandung jaman dulu sempat bingung karena Tangkuban Prahu dan Papandayan tidak terletak di kota Bandung. sehingga nama jalan tersebut mengalami pergantian.
 
Daerah Cikudapateuh
     Cikudapateuh merupakan nama dari istal kuda (dalam bahasa Sunda disebut "banceuy") yang khusus menampung kuda-kuda cacat karena dalam bahasa Sunda "pateuh" memiliki arti cacat yang biasanya diakibatkan karena patah tulang. Sebagai pengetahuan tambahan, banceuy biasanya dikelola oleh warga Tionghoa dan di sekitar banceuy selalu terdapat tempat istirahat atau pesanggrahan. Setelah beristirahat, pengendara tidak akan menggunakan kuda yang sama, oleh karena itu perlu dilakukan pemisahan antara kuda cacat dan kuda sehat.
 
 
sumber :
http://www.bandung.eu/2011/11/asal-mula-nama-nama-jalan-di-bandung.html
http://mynameisnia.blogspot.com/2013/01/menjelajah-karees-cikudapateuh.html











Selasa, 24 Maret 2015

Ujung Berung, daerah akhir mengumbar nafsu


              



           Ujung Berung merupakan salah satu kecamatan di Kota Bandung, tepatnya sebelah timur. Kecamatan Ujung Berung mempunyai lima kelurahan yaitu Pasirendah, Cigending, Pasirjati, Pasirwangi, pasanggrahan. Dulunya Ujung Berung adalah satu wilayah yang sangat luas. Mengapa disebut Ujung Berung ? bagaimana asal muasal nama Ujung Berung?. 

             Ada berbagai versi, salah satu versi berdasarkan sejarah seorang tokoh bernama Dipati Ukur. Konon saat masa pelariannya, Dipati ukur dan rombongannya kejar-kejaran dengan tentara Mataram. Akhirnya sampai disuatu tempat di pinggiran danau Bandung purba sebelah timur Bandung. Tempat itu ditumbuhi oleh tanaman bambu yg sangat lebat, sehingga walupun sudah terkepung oelh tentara mataram,rombongan Dipati Ukur dapat menyamarkan diri dan tidak dapat ditemukan pengejarnya. Tempat itu bernama Bojong Awi. Bojong = daerah tepian telaga. Awi = bambu. Peristiwa itu dianggap oleh bala tentara Mataram sebagai Ujung-nya dari upaya pengejaran yang sangat panjang dalam nga-Berung napsu (mengumbar nafsu) untuk menangkap sang Dipati. Maka wilayah tersebut disebut sebagai Ujung Berung.

           Tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa asal usul nama ujung berung  yaitu tempat “ujung-na nga-berung nafsu”, merupakan akhir dari nafsu untuk mewujudkan permintaan Dayang Sumbi sebagai syarat pernikahan.(Wijaya, 2009: 25)

             Tidak ada yang tahu dengan pasti seberapa luas sebenarnya wilayah Ujungberung di awal perkembangannya. Karena, diperkirakan wilayah Ujungberung sudah ada sejak pertengahan abad ke 6, dan telah dijadikan batas wilayah antara Kerajaan Sunda dan Kendan. Setelah Jalan Raya Pos, baru ada peta yang cukup akurat mengenai batas-batas suatu wilayah di Priangan. Dimana dalam peta tersebut tercantum bahwa batas wilayah Ujungberung paling barat adalah Sungai Cibeureum (Cimahi), ke timur Sungai Cibeusi (Cileunyi), ke utara rangkaian gunung, dari G. Tangkubanparahu-Bukittunggul-hingga Manglayang, ke selatan berbatasan dengan Sungai Citarum.

           Bila kita perkirakan, luas wilayah Ujungberung pada saat itu kira-kira 43.000 ha lebih dan  Kota Bandung yang statusnya masih kampung pada saat itu berada di tengah-tengahnya, atau + 1/6 luas wilayah Kabupaten Bandung. Wilayah tersebut beribukota di Ujungberung (Cipaganti sekarang).  Pada waktu itu, berdasarkan letak geografis wilayah, Pemerintah Hindia Belanda, membagi wilayah Ujungberung menjadi 2 bagian. Sebelah utara Jalan Raya Pos, yang terdiri dari pegunungan, disebut Oedjoengbroeng Kaler. Sedangkan, sebelah selatan Jalan Raya Pos, merupakan rawa raksasa Gegerhanjuang, disebut Oedjoengbroeng Kidoel.

         Setelah Raffles memperkenalkan sistem pemerintahan distrik, wilayah Ujungberung pun terbagi menjadi 2 distrik (dimana Kabupaten Bandung waktu itu terbagi menjadi 16 distrik), yakni District Oedjoengbroeng Koelon dengan District Oedjoengbroeng Wetan, dengan batas S. Cibeunying.  Ibukota Distrik Ujungberung Kulon 'diganti' menjadi Cipaganti, sedangkan Distrik Ujungberung Wetan beribukota di Ujungberung (di Nyublek, sekitar belokan Cikadut arah ke Sukamiskin). Baru menjelang pertengahan abad ke -19, ibukota Distrik Ujungberung Wetan dipindahkan ke sekitar Alun-alun Ujungberung sekarang. 
          
         Hingga akhir abad ke-19, nama Ujungberung terpampang jelas di peta-peta lama yang dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda. Ini dikarenakan, Ujungberung telah menjadi salah satu wilayah pusat pengembangan perkebunan kopi dan kina di wilayah Priangan. Tentunya, menjadi tambang emas bagi pemerintah kolonial.

        Setelah abad ke-20, peran Ujungberung mulai berkurang, dan nama Ujungberung mulai meredup pada peta-peta yang dibuat oleh pemerintah kolonial. Ada beberapa penyebab, diantaranya :1. Pemerintah Hindia Belanda lebih memunculkan nama Gemeente Bandung sehubungan dengan usaha pengembangan kota oleh pemerintah kolonial dengan dikeluarkannya bertutur-turut Staatsblad 1901, No 327-1 September 1901, Staatsblad 1906, No 121 - 21 Pebruari 1906, Staatsblad 1913, No 60 - 7 Mei 1913, Staatsblad 1929, No 258 - 5 Januari 1929, tentang pemekaran wilayah Bandung.  Maka, dengan itu menghapus nama Distrik Ujungberung Kulon dalam peta, karena sebagian wilayahnya masuk ke dalam wilayah Kotapraja Bandung.

2. Selesainya pembangunan jalur kereta api Batavia-Surabaya, yang tidak melewati pusat pemerintahan Ujungberung, sehingga di beberapa peta lebih memunculkan nama Cicalengka sesudah Bandung, sebagai jalur kereta api ke arah timur. Karena, di kedua tempat tersebut terdapat stasiun kereta penumpang. Sedangkan, di wilayah Ujungberung hanya sebuah stasiun pemberhentian sementara untuk mengangkut  hasil perkebunan (kina dan kopi) dari wilayah utara perbukitan Ujungberung.

3. Hampir tidak adanya pejabat pribumi atau pun bangsa Belanda yang menetap di pusat pemerintahan Ujungberung. Sesudah masa tugas habis, mereka pun meninggalkan Ujungberung. Keluarga pejabat pribumi yang ada dan menetap hingga kini hanya setingkat wedana, yakni keluarga  R. Raksamanggala yang menjabat sebagai Wedana Ujungberung Wetan pada pertengahan abad ke -19.  Bandingkan dengan Cicalengka. Di tempat tersebut, sampai saat ini tinggal beberapa keluarga terkemuka di Bandung saat itu. Termasuk beberapa keluarga Patih Bandung. Bahkan, R. Raksamanggala sendiri sebelum menjabat Wedana Ujungberung Wetan, pernah tinggal di Cicalengka. Sehingga akan mudah mencari arsip tentang Cicalengka dibanding Ujungberung hingga saat ini.

        Pengkerdilan Ujungberung pun berlanjut setelah masa kemerdekaan, dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (bisluit) Wali Negara Pasunan 1949, dengan menggeser batas wilayah Ujungberung dari Sungai Cibeunying ke Sungai Padasuka. Lepas pertengahan tahun 60-an, batas wilayah Ujungberungpun bergeser kembali hingga Jamaras-Cikadut.
       Klimaknya terjadi dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah no 16 tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya daerah Tk II Bandung dengan Kabupaten Daerah Tk II Bandung. Maka, lenyaplah Ujungberung sebagai sebuah wilayah, menjadi sebuah kota kecamatan yang masuk ke dalam wilayah Kotamadya Bandung. Lewat Peraturan Pemerintah Kota Bandung tahun 2006, kini wilayah Kecamatan Ujungberung semakin menyempit lagi dengan hanya memiliki 5 kelurahan (Cigending, Pasirendah, Pasirwangi, Pasirjati, dan Pasanggrahan) saja.

    Sungguh ironis, dari sebuah wilayah yang sempat menyita banyak perhatian di awal perkembangannya (dimana Kota Bandung berada di dalamnya), Ujungberung kini berubah menjadi sebuah kota kecamatan yang berada di wilayah Kota Bandung. Berbanding terbalik, dimana Kota Bandung dari hanya sebuah kampung kecil (sejak ditemukan oleh Julien da Silva tahun 1641), menjadi sebuah wilayah yang sangat luas; mencakup Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat (yang sebagian wilayahnya dulu adalah wilayah Distrik Ujungberung Kulon).

            Wilayah Ujung Berung tempo dulu hingga kini kita mengenal nama-nama daerah yang berhubungan dengan air (Cai atau Ci) seperti Cicadas, Cicaheum, Cikadut, Cicukang, Cinambo, Cibiru, Cipadung, Cileunyi. Ciri lainnya nama-nama daerah berhubungan dengan rawa (ranca) seperti Rancabolang, Rancakasumba, Rancaekek, dan Rancanumpang. Sebelah utara jalan pos nama-nama wilayah Ujung Berung menggunakan nama pasir (bukit) seperti Pasirjati, Pasirkunci, Pasirtengah, dan Pasirangin. Khusus daerah yang berada diantara dua bukit disebut legok (cekungan) seperti Legokhayam, Legoknyenang, dan Legokbadak. Namun ada daerah utara jalan pos yang menggunakan nama Ci yang dulunya kemungkinan sumber mata air atau dilalui aliran sungai seperti : Cigending, Ciseupan, Cijambe, Cipanjalu, Cigagak. Jadi Cikal bakal kehidupan masyarakat Kota dan Kabupaten bandung salah satunya adalah Ujung Berung.



sumber :
http://www.pksbandungkota.com/2014/08/mapay-bandung-asal-mula-nama-ujung.html
Ujung Berung Serambi Timur Bandung, Anto S. Widjaya
 http://ujungberungq-ta.blogspot.com/2012/01/ujungberung-riwayatmu-doeloe-dari.html



Javasche bank, bank bersejarah di kota Bandung tempo dulu



      
        De Javasche Bank didirikan tahun 1828 dalam bentuk Perseroan Terbatas (N.V. atau Naamlooze Vennootschap) dan pada tahun itu juga mendapatkan hak octrooi sebagai bank sirkulasi. Bank ini didirikan berdasarkan perintah Raja Willem I, konsepsinya ditangani oleh Direktur Daerah Jajahan, J.C. Baud, dan Direktur Urusan Hindia Belanda dan Nederlandsche Handel-Mij, Schimmelpenninck. Pembentukannya dilakukan oleh Komisaris Jendral Hindia Belanda, Leonard Pierre Joseph Burgraaf du Bus de Gisignies.

       Sebagai kantor pertama digunakan gedung Firma MacQuoid Davidson & Co di Jakarta-Kota. Sampai sekarang gedung ini masih dipergunakan sebagai kantor Bank Indonesia. Presiden pertamanya adalah C.H.R. de Haan dan sekretaris C.J. Smulders.

       Setahun setelah berdirinya, de Javasche Bank membuka cabang di Semarang dan di Surabaya, namun perlu 35 tahun sebelum membuka cabang berikutnya di Padang dan kemudian di Makassar (1864). Dalam 125 tahun perjalanannya, de Javasche Bank telah membuka 23 kantor cabang yang tersebar di 4 pulau, Jawa, Sumatra, Kalimanta, dan Sulawesi, serta sebuah cabang di Amsterdam, Belanda.


        Menurut buku Bank Indonesia dalam Kilasan Sejarah Bangsa (Prof. M. Dawam Raharjo, 1995), satu-satunya cabang de Javasche Bank yang didirikan tidak dengan dasar pertimbangan usaha perbankan dan juga tidak karena alasan kebijaksanaan ekonomi pemerintah kolonial, adalah kantor cabang Bandung. Kantor cabang ini didirikan di Landraadweg (sekarang Jl. Perintis Kemerdekaan) dan mulai beroperasi pada 30 Juni 1909. Sebenarnya kantor cabang Bandung sudah direncanakan pendiriannya pada tahun 1901 sebagai upaya mencari tempat yang lebih aman untuk menyelamatkan kekayaan de Javasche Bank dari ancaman Perang Boer di Afrika Selatan.

      Perang Boer telah menimbulkan kesibukan dan kepanikan di kalangan militer Hindia Belanda. Berbagai siasat peperangan direncanakan untuk menangkal serbuan yang dapat datang sewaktu-waktu. Presiden de Javasche Bank ke-10 saat itu, J. Reysenbach, mencoba mencari jalan keluar terbaik dalam menghadapi situasi dan muncullah ide untuk menjauhkan bank dari daerah pantai dan tempat yang dipilih adalah Bandung. Sebagai cabang, Bandung adalah kantor cabang yang ke-15.

    Karena bukan dengan pertimbangan keuntungan, direksi de Javasche Bank mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda agar bisa mendapatkan hibah sebidang tanah sebagai hak milik untuk lokasi pembangunan gedung bank. Tahun 1906 keluar surat Gubernur Jendral yang berisi penyerahan sebidang tanah dengan luas 10.460 meter persegi di desa Kejaksan Girang tanpa penggantian biaya dengan syarat di situ khusus untuk gedung kantor. Lokasi lahan ini berada di Residentie Preanger Regentschapen, Bestuur Afdeling en Hoofdplaats Bandoeng, Disctrict Oedjoeng Beroeng.



     Rencana pendirian de Javasche Bank cabang Bandung dilanjutkan oleh presiden ke-11, G. Vissering (1906-1912). Pada tanggal 30 Juni 1909 kantor cabang telah dibuka dengan pimpinan sementara dipegang oleh A.M. Meertens yang sebelumnya pemegang buku dan pemimpin cabang kantor Yogyakarta dan Solo. Dari laporan perjalanan Direktur de Javasche Bank, E.A. Zeilinga Azn, dapat diketahui bahwa cabang Bandung ini menempati persil sewaan dari Firma van Arcken & Co yang terletak di Bragaweg, suatu pusat kegiatan perdagangan. Gedung kantor permanen mulai dibangun pada tahun 1915 dan selesai pada tanggal 5 Mei 1918.
  
      Pada masa presiden de Javasche Bank ke-14 (1929-1941) dipegang oleh Dr. G.G. van Buttinga Wichers, dirancang sebuah khazanah di samping khazanah yang sudah ada dan disebut sebagai “khazanah perang”. Pembangunan khazanah ini berbarengan dengan renovasi rumah dinas pemimpin cabang dan seluruhnya dapat selesai pada 5 Mei 1938. Sebuah prasasti peresmian masih menempel pada dinding khazanah. Prasasti tersebut bertanggal 19 Maret 1939 dan menyebut nama putra Buttingha Wichers yang masih berusia 7 tahun, yaitu Gerard Gilles van Buttingha Wichers.




        Berdasarkan keputusan dalam Konferensi Meja Bundar tahun 1949, de Javasche Bank ditunjuk sebagai bank sentral. Pada tahun 1951 dibentuk Panitia Nasionalisasi de Javasche Bank dan menunjuk Sjafruddin Prawiranegara sebagai presidennya menggantikan Dr. A. Houwink yang mengundurkan diri. Dalam peringatan 125 tahun de Javasche Bank, 24 Januari 1953, Wakil Presiden Moh. Hatta mengatakan bahwa bank ini akan ikut menyelenggarakan kebijaksanaan moneter pemerintah dan akan aktif mempengaruhi perkembangan perekonomian dalam masyarakat. Kemudian lahirlah Bank Indonesia sebagai bank sentral pada tanggal 1 Juli 1953.

      Gedung de Javasche Bank yang terletak di ujung utara Jl. Braga sekarang dibangun dengan arsitektur bergaya neo-classcics atau ecclecticism berdasarkan rancangan biro arsitek Hulswit, Fermont & (Edward) Cuypers. Bentuk bangunan yang megah dengan pintu utama yang tinggi memang sedap dipandang oleh siapapun yang lewat. Bila berhenti sejenak mengamati detail bangunan, langsung terlihat kekayaan ornamen etnik Nusantara hadir di banyak sudut bangunan yang masih tampak sangat kokoh ini. Gedung Bank Indonesia termasuk salah satu dari 100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung yang tercantum dalam Peraturan Daerah No.19 Tahun 2009.




Sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/06/04/bank-indonesia-dh-de-javasche-bank/
https://abualbanie.wordpress.com/2014/04/15/de-javasche-bank-riwayatmu-kini/

foto :
https://historicalbuildingsbdg.wordpress.com/38-2/














Rabu, 18 Maret 2015

Asal usul Batagor, jajanan rakyat dari Bandung



         Siapa yang tidak kenal dengan batagor? sebuah penganan yang dikenal oleh banyak orang. Baik orang Bandung maupun yang berasal dari luar Bandung. rasanya yang luar biasa menjadikan penganan ini banyak diburu oleh orang orang, baik untuk oleh oleh atau untuk disantap langsung. nah, bagaimana sejarahnya penganan ini tercipta. Mari kita simak

        Batagor lahir dari ketidaksengajaan. Saat itu, Isan atau Ihsan adalah seorang penjual bakso keliling di seputaran Jalan Kopo, Bandung Tahun 1973. pada suatu hari, bakso yang dijajakan kurang laku di jual. Setiap hari ia memikirkan mau diapakan bakso, tahu, yang tidak terjual ini. Apakah harus dibuang, atau diolah lagi supaya tetap menghasilkan uang. Lalu ide sederhana untuk menggoreng sisa bakso tahu tersebut muncul lalu dia lakukan jika dagangannya tersisa. Pada awalnya bakso tahu yang digoreng tersebut ia bagikan pada tetangga, namun ternyata para tetangganya sangat menyukainya. Malah ada tetangga yang diminta untuk dibuatkan lagi. Melihat antusiasme tersebutlah, Ihsan mulai mencoba menjajakan bakso tahu yang telah digoreng bersama baso tahu yang biasa dia jual. Di luar perkiraannya, ternyata peminatnya banyak, bahkan berdagang bakso tahu yang digoreng lebih laku dari berjualan bakso saja menurutnya.

       Akhirnya Isan lebih banyak mengembangkan Bakso Tahu yang digoreng, dengan memberikan aroma dan rasa ikan lebih kuat dan lebih banyak, dengan sambal khusus, sehingga masyarakat lebih banyak menyebitnya Batagor, seperti yang kita kenal saat ini. Sejak saat itu Isan mengalami peningkatan pelanggan. Hingga di awal tahun 80 an ia menyewa sepetak lahan untuk berjualan agar tidak perlu berkeliling kampung lagi. Baso tahu gorengnya mulai banyak dikenal. Banyak pula yang menirunya, terutama yang berjualan di seputar Bandung. Akibat demam Baso Tahu Goreng yang terjadi saat itu di Bandung, maka kala itu banyak pelanggan yang menyebutnya dengan seputan pendek Batagor

     Usaha batagor Isan kian berkembang, dari hasil dagangnya antara lain ia berkesempatan dua kali ke tanah suci yaitu pada tahun 1991 dan 2003. Sepulang dari ibadah haji, merk dagangnya yang semula Batagor Isan diubah menjadi Batagor H. Isan, seperti yang kita kenal sekarang. H. Isan wafat pada tahun 2010 dalam usia 79 tahun, usaha dagannya diserahkan kepada salah satu keponakannya yaitu H. Suwarto karena H. Isan tidak memiliki anak kandung. Kini, warung batagor H.Isan yang berada di jalan Bojongloa No. 38 Bandung, masih tetap diminati para pelanggan setianya, dengan display yang masih tetap sederhana dan harga yang relatif murah dibandingkan batagor terkenal lainnya di kota Bandung.



 Sumber : 
http://www.kaskus.co.id/thread/5112018a05346a1a5e000006/asal-mula-batagor-bandung
http://kulerkuliner.blogspot.com/2014/09/asal-usul-batagor-bandung-dan-resep.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Batagor
http://dibalikkotabandung.blogspot.com/2014/06/h-isan-dan-sejarah-batagor-di-bandung.html

Sumber foto :
http://dibalikkotabandung.blogspot.com/2014/06/h-isan-dan-sejarah-batagor-di-bandung.html
http://senoji.blogspot.com/2012/09/batagor-bandung-hisan.html

Villa Isola, sebuah kisah tragis dibalik kemegahan



     Ada yang familiar dengan gedung ini? untuk yang rumahnya ada di sekitar daerah Ledeng/ Setiabudi Bandung atau yang sedang atau juga pernah berkuliah di Insitut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) atau sekarang lebih di kenal dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pasti sangat familiar dengan bangunan ini, apalagi dengan taman parterenya...dan juga noni belanda di bangku ke empatnya...uuupps..hehehe. 

     Tapi untuk sejarah gedung ini sendiri apa semua sudah tahu? yuk kita simak sedikit cerita banguna villa yang begitu megah (dimasanya) ini.  

Tampak Depan
    
   Villa Isola adalah bangunan villa yang terletak di kawasan pinggiran utara Bandung. Berlokasi pada tanah tinggi, di sisi kiri jalan menuju Lembang (Jln. Setiabudhi), Villa Isola adalah salah satu bangunan bergayaArsitektur bergaya Art Deco yang banyak dijumpai di Bandung. Villa Isola dibangun pada tahun 1933 (apakah bersamaan dengan lahirnya Persib bandung?), milik seorang hartawan Belanda bernama Dominique Williem Barretty seorang “raja koran” keturunan indo Jawa-Belanda, yang sangat kaya-raya. Kehidupannya konon sangat mewah dan glamour pada masanya Pembangunan vila ini pun dilakukan pada masa krisis global, namun Tuan Berretty sanggup mengeluarkan uang guldennya yang sangat mahal (sekitar 250 milyar rupiah hari ini) untuk membayar seorang arsitek terkemuka saat itu yaitu Charles Prosper Wolff Schoemaker. Kemudian bangunan mewah yang dijadikan rumah tinggal ini dijual dan menjadi bagian dari Hotel Savoy Homman. Perkembangan selanjutnya, ia dijadikan Gedung IKIP (sekarang UPI) dan digunakan sebagai kantor rektorat UPI.


vila isola tampak belakang
Tampak Belakang

          Gedung ini berarsitektur modern dengan memasukkan konsep tradisional dengan filsafat arsitektur Jawa bersumbu kosmik utara-selatan seperti halnya Gedung Utama ITB dan Gedung Sate. Orientasi kosmik ini diperkuat dengan taman memanjang di depan gedung ini yang tegak lurus dengan sumbu melintang bangunan kearang Gunung tangkuban Prahu. Bangunan berlantai tiga, dengan lantai terbawah lebih rendah dari permukaan jalan raya, disebabkan karena topografinya tidak rata. Ranah sekeliling luas terbuka, dibuat taman yang berteras-teras melengkung mengikuti permukaan tanahnya. Sudut bangunan melengkung-lengkung membentuk seperempat lingkaran. Secara keseluruhan bangunan dan taman bagaikan air bergelombang yang timbul karena benda jatuh dari atasnya, sehingga gedung ini merupakan penyesuaian arsitektural antara bangunan terhadap lingkungan.





      Sedikit Intermezo, ada suatu publikasi khusus pada masa Hindia Belanda untuk villa ini yang ditulis oleh Ir. W. Leimei, seorang Arsitek dari negri Belanda. Dalam publikasi ini, Leimei mengatakan bahwa di batavia ketika urbanisasi mulai terjadi, banyak orang mendirikan villa di pinggiran kota dengan gaya arsitektur klasik tetapi selalu beradaptasi baik dengan alam dan ventilasi, jendela dan gang-gang yang berfungsi sebagai isolasi panas matahari. Hal ini juga dianut oleh Villa Isola di Bandung. Pada masa pendudukan Jepang, Gedung ini sempat digunakan sebagai kediaman sementara Jendral Hitoshi Imamura saat menjelang Perjanjian Kalijati dengan Pemerintah terakhir Hindia Belanda di Kalijati, Subang, Maret 1942. 

       Bagian villa yang menghadap utara dan selatan digunakan untuk ruang tidur, ruang keluarga, dan ruang makan; masing-masing dilengkapi jendela dan pintu berkaca lebar, sehingga penghuni dapat menikmati pemandangan indah di sekitarnya. Pemandangan indah ini juga dapat diamati dari teras yang memanfaatkan atap datar dari beton bertulang di atas lantai tiga. Pada taman belakang terdapat kolam dengan pergola untuk bunga anggrek, mawar dan dilengkapi dengan lapangan tenis. Di depan sebelah utara jauh terpisah dari bangunan utama ditempatkan unit pelayanan terdiri dari garasi untuk beberapa mobil, rumah sopir, pelayan, gudang dan lain-lain.

Suasana di dalam Villa

      Pintu gerbang masuk ke komplek villa ini terbuat dari batu yang dikombinasikan dengan besi membentuk bidang horisontal dan vertikal. Setelah melalui gapura dan jalan aspal yang cukup lebar, terdapat pintu masuk utama yang dilindungi dari panas dan hujan dengan portal datar dari betonbertulang. Mengikuti lengkungan-lengkungan pada dinding, denah portal juga melengkung berupa bagian dari lingkaran pada sisi kanannya. Ujung perpotongan kedua lengkungan disangga oleh kolom tunggal yang mirip dengan bagian rumah Toraja (tongkonan). Setelah melalui pintu utama terdapat Vestibulae sebagaimana rumah-rumah di Eropa umumnya. 

      Namun dibalik kehebatan dan megahnya vila ini, siapa yang menyangka jika Berretty ini punya kehidupan yang kacau balau? Sejak vila ini berdiri, Berretty tidak sempat menikmati lama tinggal di vila yang berlokasi di Jl. Setiabudi ini. Kehidupan mewahnya membawa ia hidup dengan banyak intrik dengan pemerintahan Hindia Belanda. Berretty memang dikenal memiliki kedekatan dengan pemerintah Hindia Belanda hingga korannya pun disinyalir sering menjadi corong pemerintah Belanda. Namun ia pun memiliki kedekatan khusus dengan pemerintah Jepang, yang kemudian membuat geram pemerintah Belanda. Kehidupan yang penuh intrik ini membuat Berretty sering menyendiri dan enggan bertemu banyak orang. Tidak heran jika Villa Isola yang tenang dan damai ini dijadikan semacam tempat untuk berdiam diri oleh Berretty. Di bagian dalam vila tertulis “M’ Isolo E Vivo” yang artinya kurang lebih: menyendiri untuk bertahan hidup

    Keadaan tersebut di perparah dengan gaya hidup Berretty yang sering berganti-ganti isteri, dia sempat membuat seorang gubernur jendral marah, karena yang dinikahinya adalah anak wanitanya. Segala polemik dan intrik Berretty berujung pada akhir hidupnya yang tragis. Saat Berretty berada di Belanda, istrinya mengundang Berretty untuk pulang libur natal ke Indonesia, sayangnya dalam perjalanan dari Belanda ke Indonesia, pesawat yang ditumpanginya jatuh di perbatasan Suriah. Menurut laporan resmi, pesawat tersebut jatuh karena tersambar petir, namun menurut info lain mengatakan jika pesawat tersebut jatuh karena ditembak oleh tentara Inggris. Info lain tadi menyebutkan bahwa kedekatan Berretty dengan pemerintah Jepang cukup membuat kerajaan Belanda dan Inggris menganggap orang ini berbahaya dan menjadi ancaman. Namun akhir dari kebenaran kisah jatuhnya pesawat yang ditumpangi Berretty hingga kini tidak pernah terungkap.


sang pemilik Villa Dominique Williem Barretty






Sumber :
http://geospotter.org/952/villa-isola-bandung-sebuah-kisah-tragis
http://id.wikipedia.org/wiki/Villa_Isola

sumber Foto foto  :
 http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1580302
http://movingcities.org/movingmemos/tropical-modernity-review-oct11/
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Villa_Isola_aan_de_Lembangweg_bij_Bandoeng_TMnr_60026636.jpg
google.com