Rabu, 01 April 2015

Amuk Sangkuriang di Citatah Padalarang, catatan seorang Budi Brahmantyo.




Pagi tadi saya mencoba mencari data mengenai padalarang, ada yang menggelitik keingin tahuan saya mengenai asal usul nama padalarang. kenapa sih namanya padalarang? pada ngelarang? atau padang (tegalan/bukit) yang terlarang? setelah browsing sana sini, buka buku sana sini akhirnya saya mendarat di salah satu situs yang memuat tulisan pak Budi Brahmantyo, beliau adalah koordinator Kelompok Riset Cekungan Bandung. 

awalnya saya pikir ini mengenai asal usul kata Padalarang, tapi ternyata isinya lebih menarik lagi karena selain mengenai konservasi lingkungan tulisan beliau juga berisi korelasi (hubungan) antara nama nama tempat di padalarang dengan cerita sangkuriang yang ngebet untuk memperistri ibu kandungnya sendiri yang tidak ia sadari. yuk kita simak sama sama tulisan beliau.

 Amuk Sangkuriang di Citatah.

Bagi beberapa penduduk sepuh di kampung-kampung pelosok perbukitan kapur Tagogapu – Citatah – Rajamandala, sebelah barat Bandung, cerita amarah Sangkuriang sedikit berlanjut. Cerita lisan yang didapat dari seorang sesepuh Kampung Rancamoyan, Desa Gunungmasigit, Kecamatan Cipatat mungkin menarik untuk disimak.

Menurut sesepuh itu, sebenarnya amarah Sangkuriang tidak berhenti dengan menendang perahu dan kemudian mengejar Putri Dayang Sumbi. Sangkuriang juga mengobrak-abrik persiapan pesta pernikahan. Selain perahu, semua barang ditendanginya.




Berdasarkan sakakala Sangkuriang yang berlanjut di perbukitan kapur Citatah itulah, beberapa toponim bukit kapur berkaitan erat dengan legenda amarah Sangkuriang menghancurkan persiapan pestanya itu. Pasir (disingkat Pr. = bukit) Pawon yang berarti dapur, Pr. Leuit (lumbung), Pr. Pabeasan (tempat beras), Gunung Hawu (tungku), Pr. Kancahnangkub (wajan/panci yang terbalik), semuanya merupakan bukit-bukit yang terpisah jauh. Begitu pula Pr. Bende dan Gua Ketuk yang berarti alat tetabuhan, serta Pr. Manik yang berarti perhiasan. Makanan dan minuman terburai menjadi Ci Bukur. Bukur dalam bahasa Sunda adalah sisa-sisa makanan.


Cerita selanjutnya menurut kasepuhan Rancamoyan itu, Sangkuriang menyiapkan pelaminannya di satu bukit kapur yang bernama Karangpanganten. Ijab kabulnya direncanakan di Gunung Masigit atau masjid. Di sini cerita yang sebenarnya berbasis Hinduisme sudah terpengaruh oleh Islam. Tak utuh lagi

Kemarahan Sangkuriang yang mengejar-ngejar Dayang Sumbi diekspresikan di dalam toponim sungai Ciluncat, tempat dimana pengejaran itu meloncat-loncat. Kadang kala kejar-kejaran tersebut ada rehatnya juga sehingga Sangkuriang sempat berjemur di Rancamoyan, yang berarti rawa tempat moyan, berjemur. Keseluruhan peristiwa itu dicatat sebagai suatu bencana yang diterapkan pada nama satu bukit kapur, Pr. Bancana.



Jika berkendaraan dari Padalarang ke arah Cianjur, kita akan dapati semua toponim bukit dan sungai itu tersebar sejak Km.20 di Ciburuy hingga Km.27 di Cibogo. Setelah melewati Situ Ciburuy dari Padalarang, satu persatu kita akan temui bukit-bukit itu, diawali Pr. Pabeasan di selatan atau kiri jalan.

Bukit kapur tegak ini terkenal di kalangan pemanjat tebing sebagai Tebing-125 karena berketinggian 125 m, dinding tegak tertinggi di perbukitan ini. Di baliknya terdapat G. Hawu. Suatu dinding yang jika dilihat dari arah selatan tampak berlubang menganga, membentuk suatu lengkung alami yang sangat indah. Memang persis seperti tungku kayu bakar dengan lubang perapiannya berupa lubang vertikal sedalam kira-kira 90 m. Satu bukit kecil Pr. Kancahnangkub berada jauh di selatan Pr. Pabeasan pada perbukitan bukan kapur.


Kira-kira pada Km. 22 akan kita dapati Karangpanganten berupa bukit-bukit tegak runcing di sebelah utara atau kanan jalan. Di sebelahnya, berderet Pr. Pawon sebagai satu-satunya bukit kapur yang masih utuh karena keberadaan situs manusia purbakala, dan Gunung Masigit, bukit kapur berbentuk kerucut yang rusak karena galian batu kapur hingga ke puncak-puncaknya.

Lalu ke arah barat kita jumpai Pr. Leuit yang sulit dikenali lagi dan Pr. Bancana yang juga menganga ke atas karena galian kapur juga. Cibukur, Ciluncat dan Rancamoyan sedikit masuk ke pedalaman dari jalur jalan raya ke arah utara. Semakin ke arah barat, kita akan jumpai Pr. Manik yang masih utuh karena bukit kapur ini dikuasai Kopasus untuk latihan panjat tebing. Di atas puncak bukit dengan tebing setinggi 49 m ini “tertancap” belati komando raksasa sebagai ciri yang cukup mencolok. Jauh di sebelah selatan, terdapatlah Pr. Bende yang bernasib lebih buruk, jadi lahan tambang juga.

Bagaimana nasib bukit-bukit itu sekarang? Dari hasil pengamatan di lapangan maupun dengan sedikit bantuan citra satelit, dapat disimpulkan bahwa hampir tidak ada satu pun bukit kapur yang masih utuh. Tiga di antaranya, yaitu Pr. Pawon, Pr. Manik dan Pr. Sangiangtikoro masih baik. Hal ini karena Pr. Pawon memiliki Gua Pawon yang telah menjadi situs arkeologis dan merupakan sumber air bersih bagi masyarakat di hilirnya, sedangkan Pr. Manik dikuasai Kopasus, dan Pr. Sangiangtikoro berada di bawah otoritas PLTA Saguling. 

Bukit-bukit yang lain tinggal menunggu waktu untuk hancur dan rata. Gunung Masigit yang dikeroyok tujuh pengusaha galian batu kapur, dari tahun ke tahun berubah drastis dan akan kehilangan ciri morfologinya yang unik. Apalagi bagi ilmu geologi, bukit ini adalah bukit sangat penting karena merupakan lokasi tipe bagi Formasi Rajamandala, yaitu lokasi standar stratigrafi untuk jenis batu gamping yang berumur 30 – 23 juta tahun yang lalu ini. Pasir Pabeasan relatif aman karena setiap minggu selalu ada latihan panjat tebing. Begitu pun G. Hawu yang ada di belakangnya. Namun, jangan tanya bagaimana rangkaian punggungan bukit ini persis di kiri dan kanannya hancur juga dengan tangan-tangan mesin backhoe yang tanpa ampun menggerogoti. Pr. Bancana, Pr. Bende, G. Guha dan Pr. Guha di Kabupaten Cianjur tidak luput dari incaran pengusaha pengolahan kapur.

Habis

Pertanyaan berikutnya, sampai kapan usaha ini berlanjut? Mestinya sampai semua batu kapur habis atau ludes. Lalu inilah skenario terburuk yang tergambar di pelupuk mata: di bawah batu gamping tersembul batu lempung yang menjadi penyebab longsor utama di sepanjang jalur ini. Batu lempung ini juga cenderung tidak subur. Lalu hilang pula sumber-sumber air bersih yang tadinya berupa mata air pada kontak batu kapur – batu lempung. Inilah warisan yang akan kita berikan untuk anak cucu kita sendiri di masa depan! Palias…

Syukur, kesadaran akan masa depan yang tergambar buruk di Citatah rupanya telah mulai disadari. Pada 18 Desember 2007, Gubernur Jawa Barat melakukan acara Ngarumat Pr. Pabeasan jeung G. Hawu untuk memelihara lingkungan di sekitar dua bukit unik ini. Selanjutnya pada 29 Desember 2007 diadakan sarasehan di depan Gua Pawon yang berhasil mengikat komitmen legislatif dan eksekutif Kabupaten Bandung Barat untuk menata kawasan Goa Pawon dan Gunung Masigit serta seluruh kawasan kars Citatah berwawasan lingkungan.




sumber :
http://blog.fitb.itb.ac.id/BBrahmantyo/?p=49

sumber foto :
http://korantekno.com/article/94080/danau-bandung-pada-jaman-purbakala.html
https://kangope.wordpress.com/tag/hiking/