Selasa, 07 Juli 2015

RAA Martanagara, Catatan mengenai seorang Bupati Bandung bag 2 (asal usul Merdeka Lio)


   
   Martanagara menunjukkan kemampuan dan pengabdiannya sebagai bupati dengan melaksanakan banyak pekerjaan dalam mengembangkan Kabupaten Bandung. Pada tahun pertama kepemimpinannya, Martanagara mengganti atap-atap rumah penduduk yang menggunakan bahan ilalang dengan genting. Rumah-rumah di Bandung pada akhir abad ke-19 memang kebanyakan masih berdinding bilik dengan atap ilalang, hanya sekitar 25% saja yang sudah menggunakan tembok dan genting. Martanagara mendatangkan beberapa ahli pembuat bata dan genting dari luar Bandung untuk melatih penduduk agar mampu membuat genting sendiri.

   Salah satu pusat pembuatan genting dan bata itu berada di wilayah Balubur Hilir yang kemudian bernama Merdika Lio, sesuai dengan aktivitas di sana. Lio adalah tempat pembakaran untuk membuat genting atau bata, sedangkan “merdika” atau “merdeka” adalah status para pekerja di lio tersebut yang dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Dengan begitu, nama jalan Merdeka yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda menjadi jelas tidak mengacu pada kemerdekaan RI, melainkan kepada nama kawasan permukiman masyarakat pembuat genting ini. Sebuah jalan baru di sebelah barat Merdikaweg pun diberi nama Nieuw Merdika, belakangan diganti menjadi Burgermeesterkuhrweg, dan sekarang Jl. Purnawarman.






   Martanagara juga mendorong penduduk Bandung untuk melakukan penanaman singkong secara intensif. Banyak kebun dibuka di wilayah Bandung. Beberapa sisa rawa ditimbun tanah dan dijadikan area perkebunan, sawah, atau kolam ikan. Konon saah satu hasil karyanya adalah Situ Saeur. Ia menimbun (disaeur) bekas danau dengan tanah agar dapat dijadikan lahan garapan. Ia juga membangun beberapa jembatan yang melintasi Ci tarum, mulai dari Cihea, Sapan, sampai Majalaya, dan membuat selokan-selokan serta jaringan irigasi di Gunung Halu (Solokan Dalem).  

Di tengah kota Bandung, Martanagara mengerahkan penduduk Lebak Gede untuk membuat jaringan kanal dengan memanfaatkan aliran air dari sungai Ci Kapundung.  Pada satu titik di sekitar Lebak Gede, dibuat satu saluran baru ke arah timur sebagai jalan utama kanal menuju kawasan tengah kota. Aliran baru ini kelak dikenali sebagai sungai Ci Kapayang. 

   Pada waktu itu R.A.A. Martanagara menjabat menjadi Demang Patih di Mangunreja di daerah tasikmalaya. Bupati yang dikelola oleh menak Bandung sebagai "Dalem Panyelang" ini, adalah keturunan para Bupati Sumedang, cicit pangeran Kornel (1791-1828). Ayahnya bernama Raden Kusumayuda, Wedana Cibeureum, sedangkan ibunya Nyi Raden Ayu Tejamirah masih keturunan para Bupati Bandung R.A.A. Martanagara dilahirkan pada tanggal9 Februari 1845. Jadi, ketika diangkat dengan Besluit tertanggal 7 Juni 1893 menjadi bupati bandung, ia sudah berusia 48 tahun.

Sumber :
https://mooibandoeng.wordpress.com/2013/12/17/catatan-ci-kapayang-10-11-13/
https://id.wikipedia.org/wiki/Martanegara























Tidak ada komentar:

Posting Komentar